REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Buah manggis (Garcinia mangostana L) disebut menyimpan potensi kesehatan yang tinggi, tidak hanya dari daging buahnya, tetapi juga dari kulitnya. Menurut pakar teknologi pangan IPB University, Prof Sedarnawati, kulit manggis mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti xanthon, tanin, flavonoid, dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami dan memiliki potensi antidiabetes.
"Daging buah manggis mengandung pektin dan polifenol, sedangkan kulitnya kaya xanthon dan flavonoid. Kandungan ini menjadikan manggis berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku produk pangan fungsional dan farmasi," ujar Prof Sedarnawati dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad (18/1/2026).
Berbagai penelitian menunjukkan senyawa bioaktif dalam manggis dapat mencegah penyakit degeneratif, termasuk jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, strok, kanker, dan Alzheimer. Penelitian terbaru di laboratorium IPB University membuktikan ekstrak etanol 70 persen dari kulit manggis secara in vitro mampu menghambat aktivitas enzim alfa-amilase yang berperan dalam konversi pati menjadi glukosa.
"Ini berarti ekstrak kulit manggis berpotensi menurunkan kadar gula darah dan bekerja sebagai antidiabetes," kata Prof Sedarnawati.
Namun ia menekankan, penelitian lanjutan in vivo tetap diperlukan sebelum pengembangan massal. Proses standardisasi, uji keamanan pangan, dan uji klinis menjadi langkah wajib untuk memastikan efektivitas dan keamanan.
Melihat ketersediaan buah manggis yang melimpah saat panen raya, Prof Sedarnawati telah mengembangkan berbagai produk turunan. Mulai dari minuman kesehatan, enkapsulat nanopartikel ekstrak kulit manggis, hingga fruit leather berbasis puree daging buah yang dicampur ekstrak kulit.
"Inovasi ini tidak hanya memperpaniang umur simpan buah, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonominya," kata dia.
Dalam proses produksi, faktor seperti varietas, musim panen, teknik pascapanen, dan analisis laboratorium menjadi penentu kualitas. Ekstrak etanol 70 persen relatif aman, namun dosis, uji toksisitas, stabilitas, dan kepatuhan terhadap standar GMP (good manufacturing practices) tetap harus dikaji. Teknologi nanoenkapsulasi juga diterapkan untuk menjaga kestabilan senyawa xanthon dari kerusakan akibat panas atau oksidasi, sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Meski menjanjikan, pengembangan produk kulit manggis menghadapi tantangan, termasuk pasokan bahan baku berkelanjutan, efisiensi teknologi, pembiayaan, dan regulasi. "Dengan dukungan riset terapan dan kemitraan akademik-industri, potensi kulit manggis dapat dioptimalkan untuk mendukung ketahanan ekonomi dan kesehatan nasional," kata Prof Sedarnawati.
.png)
2 hours ago
3













































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)