REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minyak bersubsidi MinyaKita dilaporkan mengalami kelangkaan di pasaran, termasuk di wilayah Jakarta. Bukan hanya konsumen, sejumlah pedagang juga mengeluhkan ketiadaan MinyaKita di pasaran sejak Ramadhan 1447 H.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) Provinsi Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas), telah disepakati bahwa MinyaKita tidak digunakan dalam konteks bantuan pangan. Menurut dia, distribusi MinyaKita akan difokuskan secara menyeluruh ke pasar rakyat sehingga memperkuat pasokan di pasar tradisional.
“Dengan kebijakan tersebut, pasokan MinyaKita akan lebih diarahkan ke pasar rakyat sehingga akses masyarakat terhadap minyak goreng rakyat semakin baik,” kata dia melalui keterangannya, Rabu (22/4/2026) lalu.
Menurut Ratu, peningkatan distribusi ke pasar rakyat akan memberi dampak positif bagi konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada minyak goreng sebagai kebutuhan harian. Pemprov Jakarta juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, distributor, BUMN pangan, pengelola pasar, dan pelaku usaha untuk memastikan rantai pasok berjalan lancar.
Ia menambahkan, pihaknya juga akan terus memantau perkembangan harga minyak goreng di pasar tradisional maupun ritel modern. Pemantauan juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan tetap aman guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurut dia, minyak goreng merupakan komoditas strategis yang sangat dibutuhkan rumah tangga maupun pelaku usaha mikro kecil. Karena itu, pergerakan harga dan distribusinya akan menjadi perhatian pemerintah.
“Kami mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir karena ketersediaan MinyaKita dalam kondisi sangat cukup,” kata Ratu.
Ia menambahkan, pihaknya juga akan memperkuat pengawasan di lapangan untuk mencegah praktik penimbunan, distribusi yang tidak merata, maupun spekulasi harga yang merugikan masyarakat. Perkembangan harga komoditas strategis pun terus dipantau melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Kami berharap masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan dan tetap tenang. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus bekerja menjaga stabilitas harga serta memastikan pasokan minyak goreng tersedia di pasar,” ujar Ratu.
Sebelumnya diberitakan, kelangkaan minyak goreng bersubsidi MinyaKita dikeluhkan masyarakat. Baik pembeli maupun pedagang mengaku kesulitan mendapatkan stok di pasaran, bahkan sejak sebelum bulan Ramadhan.
Tak hanya langka, harga MinyaKita juga mengalami kenaikan di pasaran. Pedagang menyebutkan, harga kemasan 1 liter kini mencapai Rp 24 ribu, sementara ukuran 800 ml dijual sekitar Rp 19 ribu.
.png)
9 hours ago
3
















































