REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Yayasan Mengenal Diri Indonesia Salma Kyana, mengisahkan luka perundungan yang ia alami sejak remaja. Luka batin ini menjadi titik awal lahirnya komunitas kesehatan mental anak muda yang kini telah berjalan enam tahun dan menjangkau ribuan orang melalui ruang-ruang berbagi yang aman dan gratis.
Salma mengatakan, Mengenal Diri bermula dari kegelisahan pribadinya yang merasa tidak pernah cukup.
“Sebenarnya awalnya aku adalah orang yang sangat tidak mengenal diri. Kita pasti bikin sesuatu dari apa yang jadi keresahan kita,” ujarnya di rangkaian kegiatan Out Loud Republika, talkshow dan healing experience bertajuk "Grow Through What You Go Through, Kamis (26/2/2026).
Ia mengakui tekanan akademik hanya menjadi pemicu, sementara akar persoalannya adalah luka lama yang baru ia sadari setelah proses refleksi panjang sejak 2020, saat menjelang kelulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ia menceritakan, perundungan yang dialaminya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama merusak citra diri dan persepsinya terhadap tubuhnya. Saat itu ia kerap diejek terkait penampilan fisik.
“Itu sangat merusak citra diri aku, body image aku,” katanya.
Dampaknya tidak berhenti di masa sekolah. Hingga SMA dan kuliah, ia mengembangkan mekanisme koping dengan mencari validasi dari luar. Menurut Salma, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik.
“Aku nggak cukup cantik, nggak cukup pinter, nggak pantas dicintai, not good enough, selalu merasa not good enough,” ujarnya.
Keyakinan itu mendorongnya menjadi overachiever, mengejar lomba, sertifikat, dan penghargaan demi tepuk tangan dan pengakuan. Bahkan, ada masa ketika ia menangis hanya karena merasa tidak memiliki pencapaian dalam satu pekan.
Fenomena itu, kata dia, diperparah oleh media sosial yang memperluas ruang perbandingan sosial. Jika dahulu orang membandingkan diri dengan teman sebaya, kini perbandingan terjadi dengan orang asing yang hanya menampilkan sisi terbaiknya.
Ia menyebut lini masa media sosial sebagai highlight reels yang membuat seseorang mudah merasa tertinggal dalam pencapaian, relasi, hingga fase kehidupan seperti pernikahan atau memiliki anak.
Titik balik terjadi ketika ia didiagnosis Vitiligo, kondisi autoimun yang menyebabkan hilangnya pigmen kulit dan tidak dapat disembuhkan. Gejala itu muncul pada akhir 2018 hingga awal 2019.
Bercak putih di kulitnya memaksanya berhenti berlari dari diri sendiri. “Validasi eksternal itu bisa memberikan kepuasan sesaat. Tapi begitu ada momen di mana aku cuma sendirian, aku jadi mempertanyakan, who am I without this?” katanya.
Ia menyadari ketergantungan pada pencapaian dan relasi romantis sebagai sumber harga diri tidak sehat. Salma mengaku pernah merasa harus selalu memiliki pasangan agar merasa pantas dicintai.
.png)
9 hours ago
4
















































