Kebijakan Nutri Level Dinilai Belum Efektif Identifikasi Pangan tak Sehat

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebijakan pencantuman label gizi berupa Nutri Level dinilai belum efektif dalam mengidentifikasi pangan kemasan yang tidak sehat, jika dibandingkan dengan Model Profil Gizi (NPM) berbasis bukti termasuk model WHO dan praktik terbaik. Hal ini merujuk pada studi terbaru dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE).

Untuk studi ini, peneliti menganalisis 8.077 sampel produk makanan dan minuman kemasan dari delapan supermarket dan minimarket dari Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Peneliti kemudian mengevaluasi kandungan gizi dan komposisi pangan melalui berbagai model termasuk model WHO Kantor Regional Asia Tenggara (WHO SEARO), WHO Pan-Amerika (PAHO), model praktik terbaik, serta Nutri Level.

Hasilnya, berdasarkan penilaian dari WHO dan model praktik terbaik ditemukan bahwa sekitar 9 dari 10 makanan kemasan di Indonesia tidak sehat dan perlu dibatasi dengan menerapkan kebijakan pangan. Model WHO SEARO mengidentifikasi 90,1 persen produk perlu dibatasi konsumsinya, sementara model PAHO mencapai 90,7 persen.

Model praktik terbaik yang menggabungkan berbagai pendekatan internasional menunjukkan angka lebih tinggi yaitu 94,6 persen. Sebaliknya, ambang batas Nutri Level yang diterapkan di Indonesia hanya mengklasifikasikan 72,9 persen produk dalam kategori paling tidak sehat (Kategori D).

"Temuan ini membuktikan ambang batas Nutri Level belum optimal jika dibandingkan NPM berbasis bukti dalam mengidentifikasi makanan tidak sehat. Ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektif kebijakan," kata Direktur CHeNECE, Trias Mahmudiono, dalam diskusi media virtual dipantau di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Perbedaan mencolok juga terlihat pada kategori minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang menjadi prioritas kebijakan. Nutri Level hanya mengidentifikasi 43,6 persen produk yang perlu diregulasi, jauh di bawah hasil model WHO SEARO (94,2 persen), PAHO (92,0 persen), dan model praktik terbaik (97,4 persen).

Menurut peneliti, hal ini terjadi karena perbedaan cara pengukuran gula. Nutri Level menggunakan total gula namun mengecualikan laktosa dalam produk susu, serta menetapkan ambang batas kategori D yang relatif lebih tinggi. Sementara itu, model lain menggunakan pendekatan yang lebih ketat, termasuk penghitungan gula bebas berbasis kepadatan energi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |