REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tim Pelatnas Bulu Tangkis Indonesia memilih berangkat lebih awal ke Inggris demi mematangkan persiapan menuju turnamen tertua dan paling prestisius di dunia, All England 2026 yang akan berlangsung pada 3-8 Maret mendatang.
Rombongan yang dipimpin para pelatih bertolak ke London melalui Istanbul pada Selasa (24/2/2026) malam. Setibanya di Ibu Kota Inggris itu pada Rabu (25/2/2026) besok, tim akan melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Milton Keynes untuk menjalani program aklimatisasi.
Langkah ini disambut positif jajaran pelatih. Mereka menilai adaptasi lebih awal terhadap perbedaan waktu, suhu, dan cuaca menjadi faktor krusial demi menjaga performa para atlet saat hari pertandingan tiba.
Pelatih ganda putra, Antonius Budi Ariantho, menilai keberangkatan lebih dini memberi dampak signifikan bagi kesiapan anak asuhnya. “Menurut saya, sangat bagus kita bisa berangkat lebih awal. Pengaruhnya cukup besar untuk anak-anak,” ujar Antonius dalam keterangan resmi PBSI.
Ia menambahkan, perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara Jakarta dan Inggris tak bisa dianggap remeh. “Di sana cuacanya dingin sementara di Jakarta panas. Dengan waktu penyesuaian, kendala jetlag maupun perubahan cuaca bisa lebih teratasi,” katanya.
Selama tiga hari program aklimatisasi, menu latihan akan langsung masuk fase prakompetisi. Undian pertandingan yang sudah keluar menjadi acuan dalam menyusun pola latihan, dengan fokus pada simulasi gim.
“Menu latihannya sudah masuk ke pra-kompetisi yang banyak game. Jadi adaptasi jalan, sentuhan pertandingan juga tetap terjaga,” jelas Antonius.
Senada dengan itu, pelatih tunggal putra Indra Widjaja menilai mini training camp ini sebagai langkah strategis. Perjalanan panjang dari Indonesia ke Inggris membutuhkan waktu pemulihan yang cukup agar kondisi atlet tetap prima.
“Saya rasa ini positif, terutama untuk penyesuaian waktu dan recovery setelah perjalanan jauh,” ujar Indra.
Ia juga menyoroti momen istimewa bagi Alwi Farhan yang untuk pertama kalinya akan merasakan atmosfer All England. Turnamen ini kerap disebut memiliki suasana “angker” karena sejarah dan tekanannya yang besar.
“Memang kata orang All England itu atmosfernya angker. Tapi apa pun itu, saya rasa ini pengalaman yang sangat baik untuk dia,” tutur Indra, memberi pesan agar sang pemain menikmati proses dan menjadikannya sebagai ajang pembelajaran berharga.
Dari total 20 atlet pelatnas yang akan berlaga di All England 2026, hanya pasangan ganda putri Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi yang tidak mengikuti program aklimatisasi.
Keduanya tengah berkompetisi di ajang German Open, sehingga akan menyusul sesuai jadwal pertandingan yang dijalani.
Dengan persiapan lebih matang dan adaptasi maksimal, Merah Putih berharap bisa kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung bulu tangkis bergengsi tersebut. Aklimatisasi dini bukan sekadar strategi teknis, melainkan ikhtiar serius demi menjaga tradisi juara Indonesia di All England.
.png)
2 hours ago
2
















































