Foto udara menunjukkan sebuah kapal tanker di depot bahan bakar Aral di kilang minyak Ruhr Oel milik BP Gelsenkirchen GmbH di Gelsenkirchen, Jerman, 17 Maret 2026. Karena meningkatnya konflik di Timur Tengah, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak melewati 100 dolar AS per barel.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Indonesia berencana membeli minyak mentah (crude) minyak mentah dari Rusia sekitar 150 juta barel. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan energi hingga akhir 2026. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menerangkan saat ini pemerintah tengah merampungkan skema pelaksanaan impor.
Itu termasuk opsi penugasan kepada badan usaha milik negara atau melalui skema badan layanan umum. Regulasi disiapkan agar proses pengadaan dapat berjalan sesuai kebutuhan pembiayaan, jalur distribusi, serta mekanisme kerja sama antarnegara.
“Nah untuk ini komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” kata Yuliot di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan realisasi impor tidak dapat dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak di dalam negeri. Pemerintah memilih skema bertahap sambil mempercepat kesiapan pengadaan.
Yuliot menambahkan komitmen impor energi tidak hanya mencakup minyak mentah, tetapi juga LPG. Pemerintah tetap membuka opsi pasokan dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, guna menjaga ketahanan energi nasional. “Yang perlu kita tekankan kan ada dua komitmen impor kita. Yang pertama adalah crude, yang kedua adalah LPG,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah juga mempertimbangkan konsekuensi penggunaan skema BUMN yang mengharuskan proses tender, berbeda dengan mekanisme kerja sama antarnegara (G2G) yang dinilai lebih fleksibel. “Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G. Jadi untuk ini konsekuensi itu yang saya maksudkan,” jelas Yuliot.
Ia mengaatakan pasokan minyak Rusia akan digunakan untuk berbagai kebutuhan dalam negeri, mulai dari bahan bakar hingga industri petrokimia dan kegiatan pertambangan. “Sepanjang kebutuhan dalam negeri ini kan kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia kan juga diperlukan juga,” tuturnya.
Pemerintah juga tetap mengandalkan impor dari Amerika Serikat. Saat ini sekitar 60 persen impor LPG Indonesia berasal dari negara tersebut, dengan total kebutuhan mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. “Kalau untuk LPG total impor kita dari sekitar 7 juta ton yang kita impor itu kan sekitar 60 persen itu kan sudah dari Amerika,” kata Yuliot.
.png)
4 hours ago
3















































