Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,27 persen menuju level 7.337 pada perdagangan Senin (9/3/2026), di tengah terus bergulirnya konflik perang di Timur Tengah. Menanggapi hal itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengomparasikannya dengan kondisi IHSG pada tahun lalu akibat dampak penerapan tarif AS yang dinilai lebih parah.
“Kalau kita lihat kan memang faktor eksternal yang sedang terjadi saat ini menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi. Tidak hanya di pasar kita, tetapi juga di global market,” kata Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT BEI Jeffrey Hendrik usai menghadiri acara peluncuran IDX Mobile Sharia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Kendati demikian, kondisi goncangan yang dialami pasar modal Indonesia saat ini dinilai masih cukup kondusif, dibandingkan gonjang ganjing yang terjadi pada tahun lalu. Tepatnya usai Pemerintah AS menetapkan tarif resiprokal kepada negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan AS pada 2 April 2025 lalu, IHSG mengalami kemerosotan hingga menyentuh level 6.000.
“Kalau kita bandingkan dengan fenomena yang terjadi tahun lalu di bulan April, dimana AS juga mengeluarkan kebijakan yang tidak diantisipasi oleh publik pada saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam. Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” ungkapnya.
“Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” lanjutnya.
.png)
3 hours ago
1
















































