IHSG Bertahan di Atas 9.000, Ini Rekomendasi Saham Berdasarkan Risiko

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah sekuritas membagi rekomendasi saham berdasarkan tingkat risiko untuk investor ritel, mulai dari saham berisiko rendah hingga tinggi, di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bertahan di atas level 9.000.

Di tengah pergerakan pasar yang fluktuatif, investor ritel perlu menyesuaikan strategi dengan profil risikonya. Rekomendasi dari IPOT, BNI Sekuritas, dan Ajaib Sekuritas memberi gambaran saham mana yang relatif defensif hingga agresif untuk jangka pendek maupun menengah.

Risiko Rendah: Saham Besar dan Perbankan

Untuk investor dengan profil risiko rendah, saham berkapitalisasi besar masih menjadi pilihan utama. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai pergerakan IHSG cenderung terbatas dalam jangka pendek.

“IHSG berpotensi sideways hari ini,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/1/2026).

BNI Sekuritas menyoroti saham ASII dengan pendekatan spec buy di area 7.050 dan target 7.125–7.200. ASII merupakan perusahaan konglomerasi yang bergerak di sektor otomotif, alat berat, agribisnis, hingga jasa keuangan. Saham ini dinilai relatif stabil karena ditopang banyak sumber pendapatan.

Selain itu, INKP juga masuk radar dengan area beli 9.875–9.950 dan target 10.100–10.300. INKP merupakan perusahaan industri kertas dan pulp yang produknya banyak diekspor. Saham ini biasanya diminati saat permintaan global membaik, meski tetap sensitif terhadap harga komoditas.

Ia menjelaskan, IHSG memiliki area penopang kuat di kisaran 9.000–9.040 dengan resistance di level 9.100–9.150. Saham-saham berfundamental kuat seperti perbankan dan emiten besar dinilai lebih cocok bagi investor yang menghindari volatilitas tinggi.

Risiko Menengah: Saham Konsumsi dan Energi

Pada kategori risiko menengah, saham berbasis konsumsi dan energi mulai dilirik. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai aliran dana asing masih menjadi penopang pasar.

“Arus dana asing yang kembali masuk ini mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro domestik di tengah volatilitas global,” kata Imam.

IPOT merekomendasikan saham-saham yang menjadi incaran investor asing, seperti JPFA, BBRI, dan AADI. JPFA merupakan perusahaan pakan ternak serta produsen ayam dan telur. Saham ini berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat sehari-hari, sehingga kinerjanya sering dipengaruhi daya beli dan kebijakan pangan.

Kemudian, BBRI merupakan bank milik negara yang fokus menyalurkan kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Saham perbankan ini kerap menjadi pilihan investor karena likuid dan banyak diminati investor asing.

Sementara itu, AADI merupakan perusahaan batu bara. Saham ini sensitif terhadap pergerakan harga batu bara dunia, sehingga berpotensi memberi keuntungan lebih besar saat harga komoditas naik, namun risikonya juga lebih tinggi dibanding saham defensif.

Saham-saham ini dinilai memiliki keseimbangan antara potensi kenaikan dan risiko yang masih terukur, terutama ditopang konsumsi domestik dan sektor energi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |