Gara-Gara Kemudahan Cashless, Keuangan Pribadi Jadi Sering Boncos

7 hours ago 4

Image cyrilla nur khulaida

Bisnis | 2026-07-10 17:48:36

Ilustrasi Pembayaran tanpa tunai memudahkan transaksi, namun bisa menambah bahaya boros jika kontrol uang tidak bagus. Foto : Pexels/Towfiqu Barbhuiya.

Beberapa waktu lalu, saya berbicara dengan seorang teman. Dia mengeluh tentang keuangannya. Padahal, katanya, gajinya bulan ini sama saja seperti bulan lalu. Anehnya, uang di rekeningnya seolah cepat sekali hilang sebelum akhir bulan.

Ketika dia coba mengingat ke mana saja uangnya pergi, ternyata tidak ada pembelian barang mahal. Kebutuhan besar juga tidak ada. Dia hanya sering membeli kopi, memesan makanan lewat aplikasi, berlangganan aplikasi digital, dan sesekali berbelanja saat ada diskon.

Semua pembayaran itu dilakukan tanpa tunai.

"Rasanya cuma sekali sentuh, tahu-tahu saldo sudah menipis," keluhnya.

Kisah ini mungkin banyak dialami orang. Di zaman serba digital ini, pembayaran non-tunai memang sangat memudahkan. Cukup pakai kartu, dompet digital, atau QRIS, bayar bisa selesai dalam sekejap.

Tapi, di balik kemudahan ini, ada satu hal yang sering terlupakan.

Yaitu, makin susahnya mengawasi uang yang keluar.

Saat Uang Keluar Tak Terasa Lagi

Dulu, saat bayar pakai uang tunai, orang bisa lihat langsung duitnya keluar dari dompet. Ada rasa "hilang" saat uang kertas itu berpindah tangan.

Nah, beda sama bayar cashless. Urusan bayar itu cepat sekali, jadi sering tidak memberi rasa yang sama di hati. Banyak orang merasa tidak benar-benar mengeluarkan uang karena cuma scan kode QR atau tempel kartu. Hasilnya, mau beli barang jadi lebih gampang tanpa banyak pikir.

Penawaran dan Potongan Harga Menarik

Kemudahan bertransaksi secara digital seringkali datang dengan banyak promosi menarik. Ada cashback, ongkos kirim gratis, sampai diskon khusus buat pemakai dompet digital tertentu.

Sekilas, ini memang menguntungkan bagi pembeli. Tapi kenyataannya, banyak orang malah membeli barang yang sebenarnya tidak begitu perlu hanya karena terbuai promo. Tanpa kita sadari, pengeluaran kecil ini terus menumpuk. Jika sering terjadi, totalnya bisa jadi lumayan besar dalam sebulan.

Pengeluaran Kecil yang Sering Diabaikan

Salah satu penyebab keuangan pribadi sering boncos adalah kebiasaan meremehkan pengeluaran kecil. Membeli kopi Rp20 ribu, jajan Rp15 ribu, atau berlangganan layanan digital Rp50 ribu mungkin terlihat sepele.

Namun jika seluruh pengeluaran tersebut dijumlahkan dalam satu bulan, nilainya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Masalahnya, transaksi cashless membuat pengeluaran kecil tersebut sering tidak terasa karena tidak terlihat secara fisik.

Literasi Keuangan Makin Penting

Teknologi pembayaran yang terus berkembang jangan dilihat sebagai hal buruk. Sistem tanpa uang tunai itu punya banyak untung.

Contohnya, transaksi jadi mudah, hemat waktu, dan aman.

Tapi kemudahan itu mesti diimbangi dengan pandai mengurus uang. Orang perlu terbiasa mencatat uang keluar. Juga membuat rencana uang per bulan. Serta tahu mana yang penting dan mana yang diinginkan. Kalau tidak diurus dengan benar, teknologi yang seharusnya menolong malah bisa bikin kondisi uang jadi tidak baik.

Kemudahan Boleh Dinikmati, Pengeluaran Tetap Harus

Dikendalikan

Sebenarnya, masalahnya bukan pada pembayaran digital itu sendiri. Teknologi ini justru membantu banyak orang karena transaksi jadi lebih cepat dan praktis. Yang perlu diperhatikan adalah cara kita menggunakannya.

Semakin mudah proses pembayaran, semakin penting juga kebiasaan mengatur keuangan. Jangan sampai kemudahan tersebut membuat kita lebih sering belanja tanpa perhitungan. Sebab, uang yang keluar dengan mudah tetap harus diawasi dengan baik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |