Sistem pertahanan udara Israel mencegat proyektil di Israel utara, seperti yang terlihat dari Galilea Atas di Israel utara, 11 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Rudal-rudal Iran dan Hizbullah kembali meluncur ke wilayah Israel pada Jumat dini hari. Salvo rudal tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan parah dan banyak korban di wilayah Galilea.
Media Israel melaporkan bahwa jumlah orang yang terluka akibat roket yang jatuh di wilayah Galilea di Israel utara telah meningkat menjadi 80 orang.
Media-media ini juga melaporkan bahwa ratusan rumah di wilayah Galilea di Israel utara rusak akibat serangan roket selama serangan simultan yang dikaitkan dengan Iran dan Hizbullah.
Insiden ini memicu ketegangan antara pemerintah setempat dan tentara Israel mengenai cara mengelola situasi keamanan.
Media Israel melaporkan bahwa sekitar 300 rumah rusak di Galilea akibat jatuhnya roket yang menimpa sebuah bangunan, sementara layanan ambulans Israel melaporkan bahwa 80 orang terluka dalam berbagai tingkat akibat insiden tersebut.
Media tersebut menjelaskan bahwa serangan itu terjadi sebagai bagian dari tiga gelombang roket berturut-turut yang menargetkan Israel utara dalam waktu satu jam saat fajar pada hari Jumat. Pada saat yang sama tercatat sebuah bangunan di daerah Kiryat Tivon dekat kota Haifa rusak setelah terkena roket, tanpa ada korban luka yang dilaporkan.
Media Israel juga melaporkan pada Jumat pagi bahwa sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran yang menargetkan Eilat dan Lembah Arava berhasil dicegat, tanpa ada laporan korban cedera.
Sedangkan Channel 12 mengungkapkan pertengkaran sengit yang terjadi pada hari Kamis antara kepala otoritas lokal di Israel utara dan komandan tentara Divisi Galilea, Yuval Gaz.
Menurut saluran tersebut, para pemimpin pemerintah daerah mengungkapkan kemarahan mereka terhadap cara tentara menangani perkembangan keamanan, dan menuduh tentara menyesatkan mereka mengenai durasi sirene yang berbunyi sekitar sepuluh menit, selain meremehkan kemungkinan eskalasi.
Pejabat setempat mengatakan kepada komandan militer bahwa apa yang terjadi membantah “narasi yang telah dipromosikan selama setahun penuh bahwa Hizbullah sudah disingkirkan dari dekat perbatasan dan tidak memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal anti-tank.”
Saluran tersebut mengutip para pejabat di Komando Utara Angkatan Darat yang mengatakan bahwa "pertempuran saat ini bersifat defensif, sementara Iran tetap menjadi arena utama dan bukan Lebanon."
.png)
4 hours ago
4














































