Seorang warga mengamati pohon Binuang Laki berukuran besar di Hutan Hujan Tropis Kahung, Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (21/8/2024). Hutan tersebut memiliki keanekaragaman hayati khas Pegunungan Meratus seperti pohon Binuang Laki, Beringin yang berukuran besar dan aneka jenis jamur serta terdapat fenomena kejadian bumi (geologi) yang telah ditetapkan menjadi salah satu situs Geopark Meratus untuk diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGG).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia dan Food and Agriculture Organization (FAO) memperkuat kerja sama kehutanan dalam pertemuan bilateral di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York. FAO menilai Indonesia sebagai mitra paling strategis dalam sektor kehutanan global.
Pertemuan tersebut berlangsung antara Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni dan Assistant Director-General and Director Forestry Division FAO Zhimin Wu di Indonesian Lounge, Selasa (12/5/2026). Berdasarkan siaran pers Kementerian Kehutanan, forum itu membahas penguatan tata kelola hutan berkelanjutan, karbon, serta kontribusi sektor kehutanan terhadap ekonomi hijau dunia.
Zhimin Wu menyampaikan bahwa Indonesia menjadi mitra kerja sama paling strategis bagi FAO. Ia turut mengapresiasi atas capaian Indonesia yang dinilai menjadi rujukan dalam pengelolaan kehutanan global.
FAO turut mengapresiasi penyelenggaraan Global Forest Observations Initiative (GFOI) 2025 di Bali pada Oktober 2025. Kegiatan itu dinilai memperkuat kolaborasi komunitas kehutanan dunia dalam pemantauan hutan berbasis data.
Selain itu, FAO mengapresiasi kemajuan Indonesia dalam pengembangan kebijakan nilai ekonomi karbon, termasuk peta jalan kredit karbon dan pasar karbon kehutanan. Penguatan ini dipandang penting dalam tata kelola karbon global.
Dalam pertemuan itu, FAO mengundang Menteri Kehutanan untuk menghadiri Committee on Forestry ke-28 (COFO28) di Roma, Italia, pada 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan FAO. Ia menjelaskan pentingnya penguatan sistem pemantauan hutan nasional, REDD+, serta tata kelola karbon kehutanan.
Indonesia juga mendorong pengembangan perhutanan sosial serta komoditas pangan dan energi berbasis hutan sebagai bagian dari ketahanan nasional. Di sisi lain, pemerintah menyiapkan publikasi The State of Indonesia’s Forests (SOIFO) 2026 yang akan diluncurkan pada COFO28.
Pertemuan ini mempertegas posisi Indonesia dalam diplomasi kehutanan global di tengah meningkatnya isu perubahan iklim dan tata kelola karbon.
.png)
3 hours ago
4















































