REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, kanada, dan Meksiko diwarnai berbagai kontroversi. Mulai dari intervensi politik hingga tuduhan keserakahan dan sikap pengecut yang ditujukan kepada FIFA, serta perdebatan mengenai keputusan wasit yang melibatkan VAR.
Diskriminasi terhadap Timnas Iran
Kontroversi awal pelaksanaan Piala Dunia 2026 terkait perlakuan diskriminatif terhadap Iran yang negaranya jadi korban serangan Amerika Serikat. Meski harus menjalani pertandingan fase grup di AS, Team Melli dilarang menggunakan kamp latihan di wilayah AS.
Setelah adanya pembatasan dari pemerintah Amerika Serikat, Iran memindahkan markasnya ke Tijuana, Meksiko. Akibatnya, para pemain harus bolak-balik melintasi perbatasan setiap kali menjalani pertandingan di Los Angeles maupun Seattle.
Pemerintah AS juga sempat hanya mengizinkan Iran memasuki wilayahnya sehari sebelum pertandingan dan mewajibkan tim kembali ke Meksiko segera setelah laga usai. Beberapa anggota staf pendukung bahkan tidak memperoleh visa. Kubu Iran menilai kebijakan tersebut melanggar prinsip kesetaraan bagi seluruh peserta Piala Dunia dan mengajukan protes kepada FIFA.
Bagaimanapun, Iran tak terkalahkan di fase grup dengan berhasil menahan imbang seluruh lawannya di piala dunia kali ini. Iran gagal maju ke fase grup karena kalah perolehan nilai untuk menduduki urutan kedua di grup atau posisi ketiga terbaik.
Wasit Somalia dilarang masuk
Kontroversi awalnya mewarnai penyelenggaraan di Amerika Serikat terkait kebijakan imigrasi ketat negara itu. Menjelang pembukaan Piala Dunia, FIFA meminta publik untuk 'santai saja' setelah wasit asal Somalia Omar Abdulkadir Artan ditolak masuk ke AS.
Ia gagal berpartisipasi dalam Piala Dunia setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat, meskipun ia memiliki visa yang sah.
Kebijakan imigrasi pemerintah AS secara luas dinilai rasis dan diskriminatif; tahun lalu, Washington memberlakukan larangan perjalanan menyeluruh terhadap warga dari 12 negara—termasuk Somalia—serta empat negara yang lolos kualifikasi Piala Dunia: Haiti, Iran, Senegal, dan Pantai Gading.
Seorang pejabat di pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyatakan—tanpa menyertakan bukti apa pun—bahwa Artan ditolak masuk karena keterkaitannya dengan "pihak yang diduga anggota organisasi teroris".
Padahal, Artan adalah wasit yang sangat dihormati dan sempat dinobatkan sebagai wasit pria terbaik tahunan versi Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pada tahun 2025. FIFA tampak diam saja dan tidak membela Artan; Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan mengatakan kepada para pengkritik untuk "santai saja".
Setidaknya, Artan—yang disambut bak pahlawan saat kembali ke tanah airnya—akan menerima bayaran penuh dan dijadwalkan memimpin pertandingan Piala Super UEFA pada musim mendatang.
Campur tangan Trump atas kartu merah Balogun...
.png)
6 days ago
25

















































