Anak Muda dan Buku: Minat Tinggi, Minim Akses

2 hours ago 1

Oleh Edwin Dwi Putranto, Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kata orang-orang, dunia yang sebegini terdigitalisasi bakal membuat buku fisik jadi barang usang. Nyatanya, ada semacam gelombang baru di kalangan anak-anak muda yang belakangan getol lagi membuka-buka halaman-halaman kertas, bukan sekadar menggeser layar.

“Saya kebetulan baru mau mulai baca lagi, Sirah Nabawiyah,” kata Bintang, seorang anak muda yang ditemui Republika di Jakarta Pusat, pekan lalu. 

Jika keluar dari mulut orang lain, niatan untuk mendalami kehidupan Rasulullah (semoga damai selalu untuknya) itu wajar saja. Tapi Bintang, tangan kanannya hampir semua tertutup tato hitam pekat. “Saya ingin tahu perjuangan Rasulullah bersama umatnya,” kata pria yang mendaku sehari-hari menjaga parkiran di pertigaan itu.

Kisah soal Rasulullah, bukan tak ada di internet. Sebaliknya, ia bejibun, kata orang Jakarta macam Bintang. Bagaimanapun, Bintang tetap memilih ingin membaca lewat buku fisik, seperti seribuan tahun kebiasaan para ulama. 

Jika Bintang hendak membaca untuk mengetahui kisah-kisah masa lampau, Sofia sebaliknya. Perempuan muda yang bekerja sebagai robotic processing developer sekaligus mahasiswi tingkat akhir di Jakarta ini membaca untuk menganalisis kondisi bangsa terkini. 

Saat ditemui Republika, di tangannya ada buku Il Principe karya pemikir politik Italia abad ke-16, Niccolò Machiavelli. Ini buku yang kesohor sejak lama, berisi bocoran bagi penguasa untuk memertahankan kekuasaan dengan cara apapun, bahkan jika cara itu dinilai masyarakat awam tak bermoral.

Cerita sejumlah anak muda Jakarta soal buku-buku yang mereka Baca. (Edwin Dwi Putranto/Republika)

“Saya baca buku ini karena relate dengan pemerintah saat ini,” ujar perempuan berjilbab itu sembari tersenyum. Ini ia sampaikan seturut persepsi di kalangan anak-anak muda soal tanda-tanda otoritarianisme yang mulai tampak belakangan.

Yang dibaca Sofia serupa dengan dengan yang dibaca Joana Matondo, seorang remaja putri yang berkuliah di Jakarta. “Saya saat ini baca buku yang author-nya George Orwell, judulnya 1984,” kata dia. 

Itu adalah buku klasik yang terbit pada 1949. Lewat buku fiksi distopia itu, Orwell memeringatkan soal bahayanya pemerintah otoriter yang mengerdilkan daya pikir masyarakat dengan manipulasi bahasa. Buku itu sempat lama jadi bacaan wajib siswa-siswi sekolah kelas menengah di Amerika Serikat.

Mereka bertiga di atas, hanya contoh kecil dari kembali ngetrendnya membaca di kalangan muda, utamanya Gen-Z dan Gen-Alfa. Sejumlah pemuda yang ditemui Republika di Aksi Kamisan di Jakarta Pusat pekan lalu, misalnya, kebanyakan adalah pembaca buku. Sebagian membaca fiksi, lainnya politik dan sejarah.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |