Komisi Iklim dan Kesehatan Eropa mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendeklarasikan perubahan iklim sebagai keadaan darurat kesehatan global. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Komisi Iklim dan Kesehatan Eropa mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendeklarasikan perubahan iklim sebagai keadaan darurat kesehatan global. Para komisioner menilai dampak kesehatan dari perubahan iklim sangat besar.
Dalam laporannya, komisi mengatakan perubahan iklim tidak hanya meningkatkan penyebaran berbagai penyakit seperti demam berdarah dan chikungunya, tetapi juga memicu cuaca ekstrem yang mengakibatkan serangan panas atau heat stroke yang kerap mematikan.
Komisi yang terdiri atas 11 mantan menteri kesehatan dan perubahan iklim itu menilai dampak kesehatan akibat perubahan iklim menunjukkan pemanasan global harus dideklarasikan sebagai apa yang disebut “keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional” atau public health emergency of international concern (PHEIC).
“Krisis iklim mungkin bukan pandemi, tetapi tetap menimbulkan keadaan darurat kesehatan publik yang mengancam kesehatan dan kelangsungan hidup umat manusia,” kata Ketua Komisi sekaligus mantan perdana menteri Islandia, Katrin Jakobsdottir, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (16/5/2025).
Jakobsdottir menambahkan, bila komunitas internasional tidak segera bertindak, perubahan iklim akan mengancam nyawa jutaan orang. PHEIC merupakan tingkat kewaspadaan ancaman kesehatan tertinggi.
PHEIC dideklarasikan untuk penyakit menular seperti Covid-19 dan cacar monyet (mpox). Komisi mengakui meski deklarasi keadaan darurat kesehatan tidak mengatasi perubahan iklim, hal itu dapat mendorong respons internasional dalam skala yang dituntut krisis kesehatan global.
Penasihat ilmiah komisi dan profesor kesehatan masyarakat London School of Hygiene & Tropical Medicine, Sir Andrew Haines, mencatat WHO sudah mengakui perubahan iklim sebagai ancaman kesehatan global.
“Apa yang kami minta adalah langkah lebih lanjut,” katanya.
Haines menjelaskan kesehatan generasi saat ini dan masa depan terancam oleh laju emisi gas rumah kaca.
“Semakin banyak orang yang menderita dan sekarat akibat panas berlebih, banjir, dan penyakit menular, polusi udara dari kebakaran hutan, semakin banyak kelahiran prematur, serta melemahnya ketahanan pangan,” katanya.
.png)
4 hours ago
5
















































