
Nakes komentar nirempati ke pasien BPJS. (Foto: Threads)
VIRALNYA kasus oknum tenaga kesehatan (nakes) yang diduga berkomentar negatif dan dinilai nirempati pada salah satu unggahan pasien BPJS di media sosial mendapat sorotan dari banyak pihak. Salah satunya datang dari dokter sekaligus influencer kesehatan ternama di Indonesia, dr. Gia Pratama.
Dalam unggahan terbaru di akun Instagramnya, dr. Gia memberikan pesan khusus kepada seluruh rekan dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia terkait peristiwa tersebut. Dia juga memberi komentar dari sudut pandang pasien.

1. Nakes Komentar Nirempati ke Pasien BPJS
dr. Gia pun mengingatkan soal jas putih serta seragam rumah sakit yang dikenakan oleh para dokter dan tenaga kesehatan. Menurutnya, pakaian itu seharusnya menjadi penetral emosi.
Seragam itu mengingatkan diri segala rasa lelah, kecewa dan marah, serta berbagai tekanan dan tanggung jawab harus disikapi secara profesional. Sebab, dr. Gia menilai menjadi pasien lebih melelahkan daripada menjadi tenaga kesehatan.
“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu Tidak Enak. Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti,” tulis dr. Gia, dikutip Kamis (6/8/2026).
2. Rumitnya Sistem Rumah Sakit dan BPJS
Di sisi lain, dr. Gia juga menyoroti pihak pasien yang tidak tahu-menahu soal rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS.
“Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Kita tahu semua itu. Tapi pasien kan enggak,” tambah dr. Gia.
“Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka,” ungkap dr. Gia.
dr. Gia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang tepat dan empati dari tenaga medis merupakan kunci utama dalam menenangkan ketakutan pasien.
“Sering kali, cukup kata-kata kita, ‘Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.’ Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang,” terang dia.
“Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit. Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran. Keduanya sama-sama berjuang,” beber dia.
“Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua. Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini,” sambung dr. Gia.
.png)
7 hours ago
3

















































