Syahidnya Ali Larijani, Jalan Kebahagian dan Suluk Filsafat yang Melekat

4 hours ago 3

Oleh : Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Di sebuah dunia yang semakin diatur oleh kalkulasi untung-rugi, di mana hidup sering direduksi menjadi sekadar bertahan, kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menghadirkan sebuah kisah filosofis yang sulit diabaikan.

Ali Larijani bukan hanya tokoh politik senior Iran dan arsitek kebijakan dan strategi militer Iran, namun juga dikenal sebagai filsuf yang selain memahami filsafat Islam, juga pemikiran Immanuel Kant.

Dalam detik-detik terakhir kehidupannya, ia memilih untuk menegaskan sebuah cara pandang tentang hidup dan mati yang tidak lagi umum dalam dunia modern.

Sehari sebelum kematiannya, di akun X-nya, ia menuliskan sebuah kutipan perkataan Imam Husain, “Aku tidak melihat kematian kecuali sebagai kebahagiaan, dan tidak melihat kehidupan bersama orang-orang zalim kecuali sebagai kehinaan.”

Dalam suasana ancaman nyata terhadap dirinya, dimana AS sudah menawarkan 10 juta dollar untuk informasi tentangnya, kalimat itu tidak lagi bisa dibaca sebagai retorika. Kalimat itu harus dimaknai sebagai pernyataan eksistensial, pemilihan sebuah posisi di alam semesta.

Kita hidup dalam zaman yang diwarisi oleh logika Thomas Hobbes, yang melihat manusia sebagai makhluk yang secara fundamental berusaha mempertahankan hidupnya.

Dalam kerangka ini, dikatakan bahwa rasa takut terhadap kematian adalah dasar dari tatanan sosial. Negara hadir untuk melindungi hidup, dan hidup itu sendiri menjadi nilai tertinggi.

Maka tidak mengherankan jika dalam dunia modern, hampir semua pilihan moral akhirnya bermuara pada satu pertanyaan: apakah ini membuat kita lebih aman untuk hidup lebih lama?

Namun apa yang ditunjukkan oleh Larijani, dan jauh sebelumnya oleh Imam Husain di Karbala, adalah bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup. Ada jenis kehidupan yang justru kehilangan maknanya ketika ia dipertahankan dengan harga yang terlalu mahal, yaitu harga kehormatan, harga keadilan, dan harga kebenaran.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |