Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sabtu, 19 September 2026. Di Ponorogo, umbul-umbul berkibar, halaman sudah siap sepenuhnya, panggung ditata, dan jalan-jalan menuju Pondok Modern Darussalam Gontor dipenuhi tanda-tanda semarak sebuah perhelatan besar.
Para santri, guru, panitia, dan alumni bekerja dalam irama yang barangkali hanya dipahami oleh orang-orang yang pernah tinggal di pesantren. Mungkin kesibukan tampak seperti kekacauan, tapi sesungguhnya bergerak dalam disiplin.
Gontor sedang menyambut usia seratus tahun. Ya, seratus tahun bukan sekadar angka yang bagus dicetak pada spanduk. Satu abad adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan perubahan dan pergantian.
Peringatan puncak seratus tahun Gontor berlangsung dalam rangkaian 18–20 September, dengan resepsi kesyukuran dan reuni akbar sebagai agenda utama. Presiden Prabowo Subianto diundang hadir di puncak acara.
Selain Presiden, diundang pula sejumlah mantan wakil presiden, menteri, tokoh organisasi Islam, kiai, pengasuh pesantren, dan duta besar negara sahabat. Tapi skala persiapannya sudah menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan reuni keluarga kecil.
Rangkaian menuju puncak pun tidak dimulai kemarin. Ada Mahrajan al-Qur’an, Olimpiade Kader Ulama Intelek, kompetisi marching band, olahraga, festival film dan musik santri, kejuaraan bahasa, turnamen alumni, tabligh akbar, pameran.
Sarasehan kiai pesantren nasional, hingga berbagai reuni alumni, sudah berlangsung di berbagai daerah. Pada puncak acara, khatmul Qur’an dan sujud syukur melibatkan unsur-unsur pondok, kampus, pondok alumni, dan alumni yang tak semuanya hadir secara fisik.
Jadi, yang berkumpul di Gontor bukan hanya orang-orang yang pernah mengenakan sarung, peci, atau seragam pramuka di tempat yang sama. Yang berkumpul adalah sebuah jaringan kenangan, gagasan, dan pengabdian yang telah menyebar ke berbagai penjuru.
Gontor memiliki alumni yang menjadi ulama, guru, dosen, profesor, birokrat, pengusaha, politisi, wartawan, diplomat, pengasuh pesantren, dan pemimpin masyarakat. Sebagian mereka mendirikan pesantren sendiri.
Pesantren-pesantren alumni itu kemudian melahirkan alumni lagi, yang mendirikan pesantren berikutnya. Maka terbentuklah jaringan yang secara informal bisa kita bayangkan ayah-bunda Gontor, anak Gontor, cucu Gontor, bahkan cicit Gontor.
Dalam silsilah keluarga, hubungan seperti itu dicatat melalui nama dan garis keturunan. Dalam dunia pendidikan, ia sering berjalan melalui guru, murid, metode, kurikulum, buku, tradisi, dan teladan.
Seorang alumni mungkin tidak membawa papan nama Gontor ke gerbang pesantrennya, tapi membawa cara mengajar, sistem asrama, disiplin bahasa, organisasi santri, dan pandangan tentang pendidikan. Nama boleh berbeda; jejaknya masih mudah dikenali.
Di sinilah arti seratus tahun Gontor melampaui umur sebuah lembaga. Ia telah menjadi semacam sungai pendidikan. Mata airnya berada di sebuah desa di Ponorogo, tetapi alirannya menemukan banyak anak sungai.
Sebagian mengairi pesantren, sebagian memasuki universitas, sebagian mengalir ke birokrasi, sebagian ke dunia usaha, dan sebagian lagi menuju ruang-ruang masyarakat yang tidak pernah dirancang dalam peta awal.
Menariknya, sungai itu tidak lahir dari air yang menggenang. Ia lahir dari keberanian melakukan pembaruan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
7 hours ago
3















































