Saat AI Menjawab dalam Hitungan Detik, Pustakawan Dituntut Jadi Penjaga Kebenaran Informasi

16 hours ago 4

Workshop Peningkatan Kompetensi Pustakawan Tahun 2026 yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU — Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan artifisial (AI) oleh mahasiswa untuk mencari ide, merangkum bacaan, hingga menyusun tulisan, muncul satu pertanyaan penting: jika mesin dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, apa peran pustakawan di masa depan?

Jawaban atas pertanyaan itu mengemuka dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Pustakawan Tahun 2026 yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu, Kamis (16/7/2026) dalam bagian Program Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Mengusung tema “Pelatihan Penulisan Ilmiah, Literasi Informasi, dan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial secara Etis”, kegiatan tersebut mempertemukan pustakawan dan pengelola perpustakaan dari berbagai lembaga di Provinsi Bengkulu untuk membahas tantangan baru yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi AI.

Peserta datang dengan satu kesadaran yang sama: teknologi telah mengubah cara orang mencari informasi, tetapi kebutuhan akan informasi yang benar dan dapat dipercaya justru semakin besar.

"Kita tidak sedang berhadapan dengan teknologi yang akan menggantikan perpustakaan, tetapi dengan teknologi yang menuntut perpustakaan beradaptasi," menjadi benang merah yang terasa sepanjang diskusi.

Kepala UPT Perpustakaan UIN FAS Bengkulu, Dr Syahril, menyoroti perubahan kebiasaan generasi mahasiswa saat ini.

Jika sebelumnya mahasiswa datang ke perpustakaan, membuka berbagai referensi, dan membandingkan banyak sumber, kini pencarian informasi sering dimulai dengan satu pertanyaan yang diajukan kepada aplikasi AI.

Perubahan itu, menurutnya, tidak perlu dipandang sebagai ancaman.

AI dapat menjadi mitra yang membantu mempercepat akses informasi. Namun fungsi utama perpustakaan sebagai penjaga kualitas sumber pengetahuan tetap tidak tergantikan.

Pandangan tersebut sejalan dengan upaya modernisasi yang terus dilakukan perpustakaan, mulai dari penguatan katalog elektronik, layanan peminjaman dan pengembalian berbasis digital, hingga perluasan akses terhadap sumber-sumber informasi elektronik.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |