Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi berbincang dengan Direktur Human Capital & Compliance BTN Eko Waluyo disela ajang Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Senin (15/12/2025). BTN meraih posisi tertinggi pada kategori Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Informatif, mengalahkan bank Himbara lainnya. Pencapaian ini menegaskan posisi BTN sebagai bank Himbara terdepan dalam penerapan transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi, sekaligus mencerminkan kepercayaan publik yang terus terjaga dalam mendukung keuangan berkelanjutan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang tren pelemahan rupiah yang saat ini telah menembus level Rp 18.000 per dolar AS memberi dampak yang cukup stabil terhadap sektor jasa keuangan. OJK menilai, eksposur langsung perbankan Indonesia terhadap risiko nilai tukar juga relatif terjaga.
“Terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah, OJK melihat bahwa dampak langsung terhadap sektor jasa keuangan, khususnya di perbankan, saat ini masih relatif terkendali. Hal ini bisa dilihat dari rasio kecukupan modal perbankan yang masih solid dengan capital adequacy ratio (CAR) per April 2026 masih sebesar 23,97 persen, sehingga masih memberikan ruang penyangga yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko,” ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK Bulan Mei 2026 pada Jumat (5/6/2026).
Selain itu, Friderica atau yang kerap disapa Kiki menuturkan, eksposur langsung perbankan Indonesia terhadap risiko nilai tukar relatif terjaga. Hal itu tecermin dari posisi devisa neto yang konsisten masih jauh di bawah ambang batas maksimal 20 persen dari modal bank.
Namun demikian, Kiki menuturkan, OJK terus mewaspadai berbagai kanal transmisi risiko dari pergerakan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap lembaga jasa keuangan di Indonesia. Misalnya, potensi peningkatan beban kewajiban valuta asing (valas) pada korporasi, tekanan terhadap sektor usaha yang memiliki eksposur impor tinggi, serta dampak kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional.
“Termasuk kenaikan harga komoditas energi global yang bisa memengaruhi kualitas aset perbankan, khususnya penurunan kemampuan bayar debitur yang terdampak apabila kondisi keuangan tersebut terus berlanjut. Jadi, untuk memitigasi risiko-risiko tersebut, kami akan memperkuat pemantauan aktivitas valas di perbankan melalui pemantauan posisi devisa neto harian, kecukupan likuiditas valas, dan kepatuhan terhadap ketentuan valas,” ujarnya.
.png)
6 hours ago
7
















































