Rupiah Makin Ambles Dekati Level Rp 18.000, Ini Faktor-faktor Pelemahannya 

13 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlanjut mengalami koreksi, hingga kini menembus Rp 17.900 per dolar AS. Di antara faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan rupiah yakni stagnasi perundingan antara AS vs Iran dari segi eksternal, dan permintaan dolar AS yang cukup tinggi dari segi internal. 

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen pada level Rp 17.878 per dolar AS. Terpantau pada sekira pukul 10.33 WIB, Mata Uang Garuda sudah menembus Rp 17.922 per dolar AS. 

Sementara itu, indeks dolar AS mengalami gap up. Adapun, harga minyak mentah untuk WTI crude oil berada di level 94,58 dan brent crude oil di posisi 96,72. 

“Apa sih yang menyebabkan rupiah kembali mengalami pelemahan? Dari segi eksternal itu tentang masalah stagnasi perundingan antara AS dan Iran,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangan suara kepada wartawan, Rabu (3/6/2026). 

Langkah gencatan senjata antara AS-Israel vs Iran memang masih ngambang. Pihak Iran menyampaikan, strategi yang dilakukan oleh AS sangat licik karena melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Iran saat tengah melakukan sosialisasi kesepahaman dalam perjanjian. Iran pun berbalik melakukan penyerangan. 

Inti konflik yang terjadi sebenarnya adalah persoalan AS yang tidak menginginkan adanya pengayaan uranium yang dikembangkan oleh Iran. AS ingin pengayaan uranium di Iran dimusnahkan, tetapi Iran enggan. 

Persoalan lainnya, Iran siap melakukan konfrontasi dengan Israel karena sampai saat ini Israel terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon, terutama Lebanon Selatan, sehingga hampir seluruh Lebanon Selatan dikuasai Israel. Sehingga, hal itu membuat ketegangan tersendiri. Iran pun mengecam akan ikut campur dalam melakukan perang di Timur Tengah antara Israel dengan Lebanon (Hizbullah). 

Sentimen eksternal lainnya yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah kenaikan harga minyak mentah dan pengaruhnya terhadap inflasi, di tengah polemik yang terjadi di Timur Tengah. Yang pada gilirannya akan memengaruhi keputusan Bank Sentral AS mengenai kebijakan suku bunganya. 

“Kita melihat dengan tingginya harga minyak, kemudian transportasi mahal, logistic juga mahal, membuat inflasi cukup tinggi. Harga-harga konsumsi, termasuk gasoline di AS terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap kebijakan mempertahankan suku bunga bahkan bisa menaikkan suku bunga,” terangnya. 

Ibrahim memprediksi, dengan kondisi yang terjadi saat ini, kemungkinan besar Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga satu kali di tahun 2026 ini. Salah satu pejabat Bank Sentral AS, Beth Hammack baru-baru ini menyampaikan bahwa ‘mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak mereda’. 

“Artinya apa? Bahwa ini mengindikasikan Kevin Warsh (Gubernur Bank Sentral AS) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026,” tuturnya. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |