Perubahan Iklim Mulai Gerus Ekonomi Eropa

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Para ekonom menilai suhu panas yang melanda berbagai wilayah dunia saat ini telah menunjukkan gejala perubahan iklim, dan bukan lagi persoalan masa depan. Dampaknya terhadap aktivitas ekonomi pun sudah mulai terasa.

Kekeringan dan suhu panas yang menerjang Eropa tahun ini mengguncang sistem produksi, pelayaran, dan kesehatan publik. Sementara itu, musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Eropa diperkirakan menjadi yang terbesar yang pernah tercatat.

Para ilmuwan mengatakan gelombang panas yang menerjang Eropa tahun ini tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim. Para akademisi memperkirakan kerugian akibat suhu panas tahun ini akan mencapai miliaran euro.

Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat dibandingkan benua-benua lain di dunia. Dampaknya meluas, mulai dari anggaran pemerintah dan fluktuasi inflasi hingga perubahan peta pariwisata. Kondisi tersebut juga memaksa Uni Eropa mempertimbangkan kembali bagaimana blok itu memproduksi energi dan mengirimkan barang.

Ekonom University of Mannheim Sehrish Usman mengatakan, dari perspektif ekonomi, pecahnya rekor suhu pada 2026 sangat mengkhawatirkan, terutama karena berbagai peristiwa cuaca ekstrem terjadi pada tahun yang sama.

"Ambil contoh gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, peristiwa-peristiwa ini terjadi pada waktu yang sama dan sebagian besar di wilayah yang sama, sehingga melipatgandakan dampaknya," katanya, Senin (10/8/2026).

Para ekonom memperkirakan dampak ekonomi dari pecahnya rekor suhu Juni-Juli tahun ini akan terasa hingga beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun ke depan.

Lalu lintas di Sungai Rhine dan Danube, yang menjadi urat nadi kargo Eropa, terhambat akibat rendahnya permukaan air. Lebih dari setengah reaktor nuklir juga harus berhenti beroperasi karena kekurangan air untuk sistem pendinginan.

Produksi sejumlah komoditas, seperti jagung dan bunga matahari, turun hingga 6 sampai 7 persen. Gelombang panas juga menurunkan produktivitas dan merenggut banyak nyawa. Di Jerman, dilaporkan lebih dari 10 ribu kematian terkait panas.

Sementara itu, biaya darurat, seperti pemadaman kebakaran dan penanganan kekurangan pasokan energi, semakin menambah beban anggaran. Lembaga keuangan asal Belanda, ING, memperkirakan terhambatnya lalu lintas di Sungai Rhine dapat mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman hingga 0,3 persen tahun ini.

MBH Bank memperkirakan PDB Hungaria turun 0,1 persen setiap pekan selama pembangkit listrik tenaga nuklir negara itu berhenti beroperasi. Allianz, perusahaan asuransi asal Jerman, memperkirakan gelombang panas selama dua pekan pada Juni saja akan memangkas PDB Eropa sebesar 0,3 poin persentase.

Allianz memperkirakan perubahan iklim akan menggerus pertumbuhan ekonomi sebesar 5 sampai 7 persen pada 2030. Spanyol, Prancis, dan Italia akan menjadi negara-negara Eropa yang paling terdampak.

"Total tagihan kerugian untuk tahun ini akan jauh lebih besar, angka ini belum memperhitungkan kebakaran hutan, kekeringan, berbagai peristiwa banjir, atau perkiraan fenomena El Niño," kata kata ekonom Allianz, Hazem Krichene.

Mengingat zona euro diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1 persen tahun ini, dampak tersebut tergolong sangat signifikan. Namun, Usman mengatakan tingkat kerusakan ekonomi yang sebenarnya baru akan terasa beberapa tahun ke depan.

"Anda mungkin memperkirakan kerusakannya akan menjadi yang terbesar pada tahun terjadinya peristiwa ekstrem dan kemudian mereda, tetapi kami menemukan hal yang sebaliknya, dampak ekonominya justru membesar pada tahun-tahun berikutnya karena cuaca ekstrem memicu rantai konsekuensi ekonomi yang lambat," kata Usman.

sumber : Reuters

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |