Namun, karena saat ini ekonomi kelas menengah sedang melemah, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu rantai kenaikan harga barang secara meluas.
![]()
Pertamax Tembus Rp16.250, Waspada Risiko Inflasi Akibat Ekspektasi Masyarakat. (Foto Istimewa)
IDXChannel - Keputusan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax 92 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas harga barang di tingkat konsumen. Meski bukan merupakan bahan bakar utama untuk angkutan logistik massal, lonjakan harga ini terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan signifikan.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, dalam situasi ekonomi yang normal, kenaikan ini mungkin hanya dianggap sebagai fluktuasi harga biasa. Namun, karena saat ini ekonomi kelas menengah sedang melemah, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu rantai kenaikan harga barang secara meluas.
Nailul menjelaskan soal pasar sering kali bereaksi secara psikologis terhadap setiap pengumuman kenaikan BBM. Hal ini menciptakan fenomena di mana pedagang menaikkan harga jual produk mereka dengan alasan biaya distribusi, meskipun armada pengangkut mereka sebenarnya menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite.
"Akan tetapi, ada efek expected inflation yang terjadi dari kenaikan harga Pertamax 92 di mana pedagang akan menaikkan harganya dan konsumen akan menerima harga yang lebih mahal," ujar Nailul kepada IDX Channel, Sabtu (13/6/2026).
.png)
3 hours ago
2
















































