REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mendorong perusahaan tambang emas milik negara meningkatkan kapasitas produksi di tengah tren kenaikan permintaan emas global yang terus mencetak rekor. Ia menilai momentum tersebut dapat menjadi peluang bagi BUMN pertambangan untuk memperkuat profit sekaligus memperbaiki neraca perdagangan emas nasional.
Menurut Herry, lonjakan permintaan emas dunia menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan emas nasional. Kenaikan harga emas yang terjadi seiring meningkatnya permintaan dapat mendorong ekspansi produksi dalam negeri.
“Di saat demand terhadap emas tinggi, tentu menjadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti itu akan mendorong kenaikan harga. Karena itu, peningkatan produksi menjadi sangat penting,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (7/5/2026).
Berdasarkan data World Gold Council, total permintaan emas global pada kuartal I 2026, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2 persen secara tahunan menjadi 1.231 ton. Di tengah lonjakan harga emas, nilai permintaan kuartalan melonjak 74 persen menjadi rekor baru sebesar 193 miliar dolar AS.
Permintaan emas batangan dan koin juga meningkat tajam menjadi 474 ton atau naik 42 persen. Capaian tersebut menjadi kuartal tertinggi kedua sepanjang sejarah, dengan investor Asia menjadi pendorong utama melalui pembelian berbagai produk investasi emas.
Herry melihat kondisi tersebut memberi dua keuntungan strategis bagi Indonesia. Selain membuka peluang peningkatan keuntungan bagi BUMN tambang, peningkatan produksi emas nasional juga dapat membantu mengurangi tekanan defisit perdagangan emas.
Sejak 2021, Indonesia tercatat mengalami defisit perdagangan emas dan berstatus net importer. Kondisi tersebut dipicu impor emas yang lebih besar dibandingkan ekspor guna memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Seiring meningkatnya kebutuhan emas nasional, anggota Grup MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), mulai memperkuat kapasitas pengolahan logam mulia di dalam negeri. Salah satunya melalui pembangunan pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik.
Antam membangun fasilitas dengan kapasitas produksi hingga 30 ton per tahun. Kehadiran pabrik tersebut akan menambah kapasitas produksi kepingan emas Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini mencapai 40 ton per tahun.
Dalam rantai pasok nasional, pasokan emas batangan berasal dari tambang emas Antam di Jawa Barat sekitar 1 ton per tahun serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50 hingga 60 ton per tahun.
Melalui rantai pasok industri yang semakin terintegrasi, Pemerintah bersama Grup MIND ID memperkuat ekosistem bullion nasional untuk memenuhi kebutuhan emas logam mulia domestik yang diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat.
.png)
3 hours ago
3
















































