Perang Masa Kini, Parlemen Eropa: Bukan Rudal Rusia, tapi AI di Ponsel Anda Hancurkan Masyarakat

13 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — "Anda tidak perlu menembak, atau melepaskan drone atau rudal kepada kami untuk mencoba melemahkan masyarakat."

Peringatan itu datang dari Anggota Parlemen Eropa Michał Kobosko. Menurutnya, ancaman terbesar terhadap sebuah negara kini bukan lagi tank atau jet tempur, melainkan kecerdasan buatan yang digunakan untuk memanipulasi pikiran manusia. Seberapa jauh ancaman itu sudah bergerak?

Perkembangan AI kini dirasakan betul oleh ratusan juta orang di dunia, perang tidak lagi selalu terjadi di medan tempur.

Ia bisa muncul di layar ponsel, media sosial, mesin pencari, hingga ruang obrolan yang digunakan jutaan orang setiap hari. Di sana, informasi palsu, propaganda, dan manipulasi opini dapat menyebar dalam hitungan detik. Siapa yang paling aktif memainkan permainan ini?

Kobosko menunjuk Rusia. Menurutnya, negara tersebut telah memanfaatkan teknologi modern untuk menjalankan serangan hibrida terhadap masyarakat Barat. Bukan hanya propaganda, tetapi juga serangan siber yang menyasar lembaga pemerintah dan perusahaan swasta dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya sudah mulai terasa di Eropa.

Polandia kini disebut sebagai negara yang paling sering menjadi sasaran serangan siber di Uni Eropa. Angka serangan meningkat tajam sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Dari bulan ke bulan, upaya pembobolan sistem digital, gangguan layanan publik, hingga operasi penyebaran disinformasi terus bertambah. Namun ancamannya ternyata tidak berhenti di sana. Karena AI berkembang jauh lebih cepat daripada aturan yang mengaturnya.

Saat para regulator masih menyusun rancangan kebijakan baru, teknologi terus melaju tanpa menunggu. Dalam konferensi PIKE 2026 di Sopot, Polandia, para pelaku industri telekomunikasi bahkan memperingatkan bahwa gelombang regulasi mulai kalah cepat dibanding kecepatan perubahan teknologi. Jika demikian, apa yang akan terjadi pada masyarakat?

Kobosko mengaku baru saja berdiskusi dengan para ilmuwan di Universitas Harvard. Ketika ia bertanya mengenai prediksi jangka panjang AI, jawabannya membuatnya terkejut. Di Amerika Serikat, kata para peneliti itu, perspektif jangka panjang kini hanya berarti tiga atau empat tahun. Dunia bergerak secepat itu. Namun ada kesalahan lain yang dianggap jauh lebih berbahaya. Yaitu ketika manusia mempercayai AI tanpa berpikir kritis, jelasnya sebagaimana diberitakan Euronews pada Ahad (31/5/2026).

Menurut Kobosko, kecerdasan buatan hanyalah alat yang bekerja berdasarkan data dan algoritma. AI tidak memahami seluruh nuansa, konteks, atau wilayah abu-abu yang sering muncul dalam kehidupan nyata. Tetapi jutaan orang mulai menerima jawabannya sebagai kebenaran mutlak. Apa akibatnya jika tren ini terus berlanjut?

Pasar kerja menjadi salah satu sektor yang akan merasakan guncangan paling besar. Banyak pekerjaan rutin diperkirakan akan diambil alih algoritma lebih cepat dari yang dibayangkan sebelumnya. Tugas administratif, analisis sederhana, hingga pekerjaan berulang berpotensi mengalami otomatisasi besar-besaran. Apakah ini berarti manusia akan kehilangan pekerjaan? Belum tentu.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |