Pasukan Batalion Kematian Chechnya berjalan selama latihan di wilayah Donetsk yang memisahkan diri dari Ukraina.
REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Unit militer Chechnya telah mengumumkan kesiapan mereka untuk dikerahkan ke Iran guna berjihad mendukung angkatan bersenjata negara tersebut. Hal ini bakal dilakukan jika invasi darat Amerika Serikat (AS) benar-benar dijalankan.
Press TV melaporkan pada Senin, pasukan tersebut—yang setia kepada pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov—akan melakukan intervensi jika operasi darat AS dilancarkan terhadap Iran. Perkembangan ini terjadi ketika ketegangan terus meningkat setelah berminggu-minggu operasi militer Amerika dan Israel yang menargetkan wilayah Iran.
Unit-unit Chechnya menggambarkan konfrontasi yang sedang berlangsung ini sebagai “perang agama,” lapor Press TV, dan menggambarkannya sebagai pertarungan antara kekuatan moral yang berlawanan.
Mereka mengatakan bahwa intervensi langsung apapun merupakan “jihad,” yang mendefinisikannya sebagai pertempuran “kebaikan melawan kejahatan” dalam membela Republik Islam Iran.
Penduduk Chechnya hampir seluruhnya adalah penganut Islam Sunni dengan Mazhab Syafii. Artinya, dukungan dari Chechnya menandakan kelompok Sunni pertama yang berpotensi ikut perang membantu Iran yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim Syiah.
Pasukan Chechnya yang bersekutu dengan Ramzan Kadyrov—sering disebut sebagai “Kadyrovtsy”— mulanya pasukan separatis yang berupaya memerdekakan wilayahnya dari Rusia. Namun belakangan, seturut perjanjian damai, mereka telah bertempur bersama pasukan Rusia, termasuk di Ukraina.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya indikasi bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan serangan darat setelah melakukan operasi udara selama berminggu-minggu. Perang dimulai pada tanggal 28 Februari selama negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington, dengan pembunuhan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, bersama dengan tokoh senior militer dan warga sipil, termasuk lebih dari 170 anak sekolah di Minab.
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan yang ekstensif. Iran telah melancarkan puluhan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan posisi militer Israel dan pangkalan AS di seluruh wilayah.
Situasi ini semakin diperumit dengan adanya laporan keterlibatan Ukraina dalam konflik tersebut. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Dewan Keamanan bahwa Kyiv telah mengirimkan “ratusan ahli” ke wilayah tersebut, Press TV melaporkan.
Dia menyatakan bahwa Ukraina “berpartisipasi aktif dalam agresi militer” yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel.
.png)
2 weeks ago
21
















































