Pancasila dan Laku Pesantren

8 hours ago 6

Oleh: Nur Hadi Ihsan Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pancasila tidak sedang kekurangan pembela. Ia sedang kekurangan manusia yang bersedia membayar harga untuk menghidupkannya. Setiap tahun namanya diperingati, tetapi tidak selalu direnungi. Setiap pekan sila-silanya dibacakan, tetapi tidak selalu dijadikan jalan kehidupan. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa tidak runtuh karena kehilangan semboyan. Bangsa retak ketika nilai-nilai yang dimuliakan dalam pidato perlahan ditinggalkan dalam kenyataan.

Persoalan terbesar bangsa ini bukanlah krisis konsep, melainkan krisis karakter. Kita memiliki dasar negara yang kokoh, cita-cita yang luhur, dan berbagai aturan yang lengkap. Namun semua itu akan menjadi bangunan kata-kata apabila tidak ditopang oleh manusia yang jujur, amanah, adil, dan bertanggung jawab. Masa depan Pancasila pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang menghidupkannya.

Krisis yang Terlupakan

Banyak orang mengira ancaman terbesar bagi Pancasila datang dari mereka yang menolaknya. Padahal ancaman yang lebih sunyi justru lahir dari mereka yang mengaku menjunjungnya tetapi enggan mengamalkannya. Ketuhanan dipuji, tetapi integritas dikorbankan. Persatuan diserukan, tetapi perpecahan dipelihara. Keadilan dijadikan cita-cita, tetapi keistimewaan terus diwariskan. Nilai-nilai besar sering kalah oleh kepentingan-kepentingan kecil.

Krisis seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan regulasi. Hukum dapat mengatur perilaku, tetapi tidak selalu membentuk hati. Kekuasaan dapat menciptakan ketertiban, tetapi tidak otomatis melahirkan kebajikan. Bangsa yang sehat memerlukan manusia yang mampu menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi, tetap berlaku benar ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang, dan tetap mengutamakan pengabdian di atas kepentingan pribadi.

Pesantren dan Pembentukan Jiwa

Di sinilah pesantren menemukan relevansinya. Sejak awal, pesantren tidak dibangun untuk mengejar popularitas ataupun kekuasaan. Pekerjaan utamanya adalah membentuk manusia. Ilmu diajarkan, tetapi ilmu bukan tujuan akhir. Tujuan yang lebih mendasar adalah melahirkan pribadi yang mengenal Tuhannya, memahami tanggung jawabnya, dan menyadari bahwa hidup adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Tradisi pesantren berangkat dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari penataan jiwa. Dalam khazanah tasawuf, kerusakan sosial sering berakar pada kekacauan batin. Karena itu, pendidikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan pengendalian diri. Dari jiwa yang tertata lahirlah perilaku yang tertib, dan dari manusia yang baik tumbuh masyarakat yang baik.

Sila Dalam Kehidupan

Banyak nilai yang menjadi ruh Pancasila telah lama hidup dalam tradisi pesantren, bukan sebagai teori yang diajarkan sesekali, melainkan sebagai laku yang dijalani setiap hari. Ketuhanan hadir dalam ibadah dan keikhlasan. Kemanusiaan tumbuh dalam adab dan penghormatan kepada sesama. Musyawarah, tanggung jawab, dan kedisiplinan dibiasakan dalam kehidupan bersama yang berlangsung sepanjang waktu.

Persatuan pun tidak diajarkan sebagai slogan. Ia tumbuh dari perjumpaan sehari-hari antara santri yang datang dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang. Mereka belajar hidup bersama, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan perbedaan dengan kedewasaan. Nilai yang terus dipraktikkan akan jauh lebih kuat daripada nilai yang hanya dihafalkan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |