Mengapa Idul Fitri Identik dengan Saling Memaafkan dan Bagaimana Cara Kita Legowo?

9 hours ago 4

Bersalaman saling memaafkan di hari Idul Fitri. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Momentum Hari Raya Idul Fitri tak pernah lepas dari tradisi saling memaafkan. Umat Islam, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, saling mengucapkan mohon maaf lahir dan batin” sebagai bentuk pembersihan hati dan perbaikan hubungan antarsesama.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan memiliki akar kuat dalam ajaran Islam.

Secara bahasa, kata maaf berasal dari bahasa Arab al-‘afwu yang berarti memberi ampun atas kesalahan orang lain tanpa menyimpan rasa benci, sakit hati, maupun keinginan untuk membalas dendam.

Di era modern, praktik saling memaafkan tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga melalui berbagai platform digital seperti aplikasi percakapan instan.

Meski medianya berubah, esensi dari tradisi ini tetap sama, yakni menghapus kesalahan dan mempererat ukhuwah.

Saling memaafkan pada Hari Raya Idul Fitri juga menjadi salah satu indikator keberhasilan ibadah puasa. Tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa (muttaqin), dan salah satu ciri orang bertakwa adalah mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Hal ini ditegaskan dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali ‘Imran [3]: 134).

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |