Laporan: Intelijen Negara Muslim Ini Pakai Teknologi Israel Memata-matai Jurnalis Hingga Pejabat

9 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID,RABAT — Seorang mantan anggota dinas intelijen domestik Maroko memberikan kesaksian terperinci yang menyatakan bahwa aparat keamanan negara tersebut telah menggunakan perangkat lunak mata-mata (spyware) buatan Israel, Pegasus, selama bertahun-tahun. Perangkat ini digunakan untuk memata-matai para jurnalis, pembela hak asasi manusia (HAM), politisi, hingga pejabat keamanan di Maroko dan seluruh Eropa.

Dilansir dari Palestine Chronicle, pernyataan tersebut terungkap dari hasil investigasi kolaboratif yang dikoordinasikan oleh Forbidden Stories. Investigasi ini melibatkan 14 organisasi media internasional, termasuk The Guardian, Le Monde, Haaretz, El Confidencial, dan Die Zeit, dengan dukungan teknis dari Security Lab Amnesty International.

Fokus investigasi ini berpusat pada kesaksian seorang pembocor rahasia (whistleblower) yang diidentifikasi dengan nama samaran "Safir". Ia pernah mengabdi selama hampir satu dekade di dalam Direction Générale de la Surveillance du Territoire (DGST), yakni badan intelijen domestik Maroko.

Menurut investigasi tersebut, pengakuan Safir diperkuat oleh bukti-bukti berupa kebocoran surel, materi pelatihan internal, catatan target Pegasus, kesaksian dari dua mantan perwira intelijen Maroko lainnya, serta analisis forensik yang dilakukan oleh Amnesty International.

Senjata sang 'monster'

Berdasarkan laporan investigasi, para perwira intelijen Maroko pertama kali diperkenalkan dengan Pegasus dalam sebuah demonstrasi tertutup yang diadakan oleh perwakilan NSO Group Israel di sebuah vila di Rabat pada 2017.

Laporan itu menyebutkan, para perwira langsung menyadari kemampuan luar biasa dari perangkat lunak tersebut karena dapat meretas ponsel jarak jauh tanpa memerlukan akses fisik ke perangkat target.

Pegasus memungkinkan operator untuk mengakses surel, pesan, foto, dan data lainnya, sekaligus mengaktifkan mikrofon dan kamera perangkat secara jarak jauh. Sang pembocor rahasia mengungkapkan bahwa alat pengawas yang sangat mahal ini dipasok melalui Uni Emirat Arab (UEA).

"Jutaan dolar bagi Emirat itu bukan apa-apa," ujar Safir. "Emirat membelinya dan membagikannya kepada dinas intelijen negara sahabat. Kasarnya ini seperti Netflix: seorang teman membayar langganan, dan yang lain ikut menggunakan akunnya," tambah dia.

Menurut mantan perwira intelijen tersebut, penggunaan Pegasus hanya dicadangkan untuk target-target dengan prioritas paling tinggi. "Kami tidak pernah memulai (operasi) dengan Pegasus," kata Safir. "Itu adalah senjata sang monster."

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |