
Ilustrasi rumah sakit. (Foto: Freepik)
KRONOLOGI Malaria Monyet masuk ke Indonesia terungkap. Ternyata, penyakit Malaria Monyet atau Monkey Malaria ini masuk ke Tanah Air berawal dari temuan di Malaysia.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan penjelasan mendalam mengenai kemunculan penyakit Malaria Knowlesi atau yang populer disebut sebagai Malaria Monyet. Penyakit yang bersumber dari primata ini kini menjadi perhatian serius di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

1. Kasus Pertama Kali
Dalam media briefing daring bertajuk “Mengenal Monkey Malaria” yang digelar Rabu 13 Mei 2026, Ketua IDAI, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, menjelaskan bahwa kasus ini pertama kali menarik perhatian dunia medis sekitar dua dekade lalu di Malaysia. Pada 2004, kasus di Negeri Jiran tiba-tiba meningkat.
"Pertama kali ini dilaporkan di tahun 2004, itu di Malaysia. Dikarenakan setelah kasus malaria menurun di Malaysia, tiba-tiba mulai tahun 2004 itu jumlah kasus malaria meningkat kembali," kata dr. Inke.
Lonjakan kasus yang tidak biasa tersebut memicu tanda tanya besar bagi otoritas kesehatan setempat. Investigasi mendalam pun dilakukan untuk mencari tahu penyebab di balik lonjakan tersebut. Apalagi, gejala yang ditimbulkan jauh lebih fatal.
"Mereka melakukan pemeriksaan atau investigasi sampai tingkat molekuler untuk melihat kenapa malaria yang ini tiba-tiba meningkat dan juga menyebabkan penyakit yang jauh lebih berat. Makanya diketahui bahwa ternyata malarianya tersebut berbeda dengan malaria yang sudah berhasil mereka kontrol," tambah dia.
2. Malaria Monyet Masuk ke Indonesia
Mengenai keberadaan penyakit ini di Indonesia, dr. Inke meluruskan anggapan bahwa malaria ini berpindah dari negara lain. Menurutnya, risiko penularan memang sudah ada di seluruh wilayah Asia Tenggara karena faktor ekosistem yang serupa.
"Sebetulnya bukan sampai ke Indonesia (baru-baru ini), jadi daerah Asia Tenggara itu memang mempunyai risiko untuk penularan Malaria Knowlesi. Dikarenakan monyet-monyetnya tadi itu semua juga tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Asia Tenggara," jelas dr. Inke.
Lebih lanjut, dr. Inke menekankan bahwa nyamuk pembawa parasit ini juga tersebar luas di wilayah Indonesia. Namun, fenomena peningkatan kasus belakangan ini lebih disebabkan oleh interaksi manusia dengan alam yang semakin intens.
"Kenapa semakin banyak? Karena tadi ya, terjadi perubahan lahan. Paparan antara monyet dengan manusia semakin tinggi. Mungkin semakin banyak juga manusia yang pindah ke daerah yang sekitar hutan, tentunya meningkatkan risiko untuk terjadinya penularan. Tetapi infeksi memang sudah ada sejak lama," tutur dia.
.png)
12 hours ago
8
















































