Ketika Sastra Indonesia Menembus Batas Dunia

3 hours ago 2

Image Theresia Andryani Ekaristi

Sastra | 2026-07-04 20:15:32

Kesusastraan Indonesia memiliki kans besar untuk mengenalkan sastra Indonesia ke kancah internasional. Salah satu indikatornya yaitu meningkatnya pengadaan dan minat terhadap studi Bahasa Indonesia di luar negeri. Prof. Dr. Koh Young Hun, Profesor Indonesianis berkebangsaan Korea Selatan, dalam kuliah tamu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga mencontohkan, lonjakan signifikan minat studi Bahasa Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan, yang menerima lebih dari dua ratus mahasiswa beberapa tahun terakhir. Fenomena itu menunjukkan eksposur sastra Indonesia di tingkat global kian terbuka. Karena itu, negara dan masyarakat perlu aktif memfasilitasi diseminasi karya sastra agar berterima di masyarakat luar, misalnya melalui penerjemahan karya sastra.

Meningkatkan Minat melalui Produk Kreatif

Minat global terhadap suatu negara tidak lepas dari produk kulturalnya. Lucien Goldmann mengatakan, sastra merefleksikan suatu negara melalui perilaku masyarakat, sosial budaya, nilai, dan sejarah masyarakat. Karya sastra merupakan diplomat masing-masing negara karena mewakili budaya dan masyarakat. Korea Selatan berhasil membuktikan strategi ini melalui alih wahana sastra ke industri kreatif, seperti drama dan musik pop. Terutama Gelora ini juga memperluas jangkauan budaya dan ekonomi.

The Korea Times" /> Gambar: Pengenalan Elemen Tradisional Korea melalui Produk Kreatif K-Pop. Sumber: The Korea Times

Potensi Sastra Indonesia di Mata Dunia

Indonesia sejatinya memiliki pondasi budaya yang kuat dan otentik. Banyak tokoh sastra bertaraf internasional, seperti Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ahmad Tohari yang menoreh pengakuan global melalui Nobel Asia dari 121 nominasi. Nobel Asia tersebut merupakan penghargaan yang bertaraf internasional untuk mengukur karya sastra. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas sastra Indonesia tidak kalah dengan standar global. Kualitas ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan melalui penciptaan karya-karya berkualitas tinggi.

Namun, untuk menembus batas nasional, karya sastra perlu mengangkat nilai universal kemanusiaan, seperti kebebasan, keadilan, dan martabat manusia. Sastra Indonesia perlu keberanian untuk menciptakan karya yang autentik, utamanya menjaga nilai lokal dan budaya historis sebagai bentuk identitas negara. Secara langsung, karya dapat mempromosikan negara melalui sifat lokal tersebut. Misalnya, eksperimen Sutardji Calzoum Bachri dalam merintis genre baru dalam sastra Indonesia. Ide ini menciptakan sejarah puisi Indonesia karena ‘memberontak’ budaya seragam. Keseragaman makna bahwa kata-kata berfungsi menciptakan pengertian dirombak oleh Sutardji sehingga kata-kata tidak lagi terjebak dalam penjajahan pengertian. Gagasan ini membuka peluang sastra Indonesia untuk mengembangkan kreativitas meskipun tidak di jalan yang seragam.

Kebebasan Diksi dan Kreativitas Bentuk Kata dalam Karya Sastra Terjemahan

Gambar: Sampul Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan Terjemahan ke dalam Bahasa Korea: 호랑이 남자 (2017)

Dalam bentuk karya cetak, sastra dapat diinternasionalisasikan melalui karya terjemahan. Tanpa terjemahan, sastra akan tetap terkurung dalam batas bahasa. Menerjemahkan karya sastra memiliki keuntungan dan hambatan yang signifikan. Karya terjemahan mampu mengenalkan budaya dan nilai lokal yang terkandung kepada pembaca lintas negara. Namun, hambatannya terletak pada kedalaman pemahaman akan bahasa dan teks karya menjadi faktor penentu kualitas karya. Pemahaman yang kurang justru meninggalkan kesan yang buruk karena tekstualitas karya asli menjadi terbatas oleh kemampuan penerjemah.

Kesalahan terjemahan dalam aspek morfologis yang umumnya muncul terletak pada koherensi teks sumber dan kesalahan penulisan. Misalnya, dalam bahasa Korea, pelafalan kata ‘Indonesia’ hampir mirip dengan kata ‘India.’ Kasus yang pernah terjadi ketika novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dipahami berasal dari India karena kesalahan terjemahan. Oleh karena itu, penerjemah harus terlebih dahulu memahami rantai proses pemaknaan. Bukan hanya dari segi budaya Indonesia, tetapi juga budaya negara yang dituju sehingga kedua budaya dilibatkan untuk mendukung pemahaman pembaca sekaligus menjaga keaslian karya.

Dalam proses tersebut, diksi dan kreativitas bentuk kata pun perlu diterjemahkan apa adanya untuk tetap menjaga autentisitas karya. Namun, menurut pengalaman Prof. Dr. Koh Young Hun, makna tertentu perlu dicatatkan artinya secara sederhana agar dapat dipahami pembaca asing tanpa menghilangkan hak pembaca untuk membangun cakrawala harapannya sendiri. Melalui perspektif diksi dan kreativitas bentuk kata, penerjemah perlu mempertahankan unsur-unsur asli sejauh mungkin, tetapi tetap mengupayakan keberterimaan bagi pembaca asing. Dalam hal ini, penerjemah berperan sebagai mediator budaya yang mendorong pertukaran budaya antarnegara, sekaligus menjaga identitas karya sastra sebagai cerminan budaya lokal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |