Petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur melakukan pengangkutan sampah organik dapur yang telah dipilah oleh warga di lingkungan RW 05, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta, Senin (20/7/2026). Sampah organik tersebut kemudian dibawa untuk diolah lebih lanjut sebagai bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah, meningkatkan pengelolaan sampah berbasis pemilahan, serta menjaga kebersihan lingkungan. (FOTO : Republika/Prayogi)
Pengangkutan sampah organik dengan sistem jemput bola dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. (FOTO : Republika/Prayogi)
Kegiatan ini merupakan implementasi Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan warga memilah sampah dari rumah. (FOTO : Republika/Prayogi)
Sampah organik dapur yang telah dipilah oleh warga dikumpulkan di titik-titik yang telah ditentukan, kemudian diangkut oleh petugas untuk diolah lebih lanjut menjadi pakan maggot. (FOTO : Republika/Prayogi)
Dalam setiap hari pengangkutan, volume sampah organik yang terkumpul mencapai sekitar 1 hingga 1,5 ton. (FOTO : Republika/Prayogi)
Pemilahan sampah dari sumbernya menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. (FOTO : Republika/Prayogi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan memilah sampah dari rumah mulai menjadi bagian dari kehidupan warga di sejumlah wilayah Jakarta. Di RW 05 Kalisari, Pasar Rebo, sampah organik dapur yang telah dipisahkan warga dijemput petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur dua kali dalam sepekan untuk diolah menjadi pakan maggot.
Program jemput bola tersebut merupakan implementasi Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang kewajiban memilah sampah dari sumbernya. Setiap kali pengangkutan, sekitar 1 hingga 1,5 ton sampah organik berhasil dikumpulkan, menjadi langkah nyata mengurangi timbunan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan kembali limbah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.
sumber : Republika
.png)
18 hours ago
5





































