REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di zaman yang bergerak lebih cepat dari detak hati, kecemasan bukan lagi gejala sesaat, melainkan menjadi “iklim batin” yang diam-diam menetap.
Banyak riset psikologi menunjukkan bahwa overthinking berkepanjangan dapat memicu gangguan tidur, menurunkan daya fokus, bahkan memperbesar risiko depresi dan kelelahan mental.
Pikiran yang seharusnya menjadi alat untuk memahami hidup justru berubah menjadi labirin, memutar tanpa ujung, membuat seseorang terjebak dalam bayang-bayang yang ia ciptakan sendiri. Di titik itu, manusia tidak lagi berhadapan dengan realitas, tetapi dengan persepsinya yang menakutkan.
Namun Islam tidak membiarkan manusia larut dalam kegelisahan tanpa arah. Ia menghadirkan kalimat yang sederhana, tetapi memiliki daya tenang yang dalam, seperti embun yang jatuh pelan di atas tanah yang retak:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Fa inna ma‘al ‘usri yusrā, inna ma‘al ‘usri yusrā.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan qaidah kehidupan. Dalam Tafsir Mafātīḥ al-Ghaib, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa pengulangan ayat ini bukan tanpa maksud. Ia menegaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Seolah Allah ingin mengatakan, dalam setiap ‘usr (kesempitan), telah disisipkan yusr (kelapangan) yang menyertainya, bukan setelahnya, tetapi bersamanya.
Di sinilah letak koreksi besar terhadap overthinking. Pikiran manusia sering melompat jauh ke depan, membayangkan kemungkinan terburuk, lalu tenggelam dalam wahm (ilusi ketakutan). Padahal, menurut Alquran, kemudahan itu tidak datang dari masa depan yang jauh, tetapi sudah ada di dalam kesulitan yang sedang dijalani. Hanya saja, hati yang terlalu gaduh sulit melihatnya.
Imam ar-Razi juga menyinggung bahwa kesulitan dalam ayat ini berbentuk ma‘rifah (dengan “al”), sementara kemudahan berbentuk nakirah (tanpa “al”), yang menunjukkan keluasan dan keberagaman bentuk kemudahan. Artinya, satu jenis kesulitan bisa ditemani oleh banyak pintu kemudahan. Ini bukan sekadar janji, tetapi sunnatullah dalam kehidupan.
Maka, kecemasan sering kali bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena hati kehilangan sukūn (ketenangan) dan yaqīn (keyakinan). Ia seperti laut yang sebenarnya tenang di kedalaman, tetapi tampak bergelombang di permukaan. Overthinking adalah riak, bukan hakikat.
.png)
3 hours ago
2

















































