Pekerja melakukan bongkar muat beras di Gudang Bulog, Komplek Pergudangan Sunter Timur, Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan Indonesia menyiapkan tim negosiasi lanjutan untuk membahas rencana ekspor sekitar 500 ribu ton beras ke Malaysia. Pembahasan lanjutan dilakukan untuk mematangkan skema pengiriman dan negosiasi harga.
Rizal menyampaikan pembicaraan awal dengan delegasi Negeri Jiran telah menghasilkan kesepakatan awal terkait rencana impor beras dari Tanah Air. Bulog kini mempersiapkan pembahasan teknis terkait jalur distribusi, termasuk opsi pengiriman langsung antarpelabuhan maupun melalui jalur darat dari Kalimantan Barat menuju Sarawak.
“Untuk potensi ekspor sesuai dengan pertemuan kemarin di Surabaya dengan delegasi dari Sarawak, Malaysia, alhamdulillah sudah ada kesepakatan. Jadi mereka akan mengimpor dengan jumlah yang lumayan sekitar 500 ribu ton, harapan kami,” kata Rizal saat berdiskusi dengan awak media di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Rizal menjelaskan salah satu direktur Bulog bersama sejumlah staf akan diberangkatkan ke Sarawak setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali dari ibadah haji. Tim tersebut akan membahas pola distribusi sekaligus memastikan mekanisme pengiriman paling efisien.
Menurutnya, opsi distribusi masih dibahas mulai dari pengiriman port-to-port hingga jalur lintas darat melalui Pontianak dan Entikong menuju Sarawak. Pembahasan teknis tersebut dinilai penting untuk memastikan distribusi berjalan efektif dan ekonomis.
“Mungkin kami akan memberangkatkan salah satu direktur kami dengan beberapa staf untuk diskusi ulang di Sarawak untuk memastikan pengirimannya port-to-port atau hanya menyeberang lewat Kalimantan Barat dari Pontianak, gudang Pontianak menyeberang masuk sampai Entikong, dari Entikong langsung ke Sarawak,” ujar Rizal.
Ia menuturkan penawaran awal dari pihak Malaysia berada di kisaran Rp 16 ribu per kilogram atau sekitar 3,7 ringgit Malaysia untuk beras premium pecahan lima persen. Menurutnya, angka tersebut sudah cukup baik meski Bulog masih berharap ada ruang kenaikan harga.
Rizal mengatakan pemerintah meminta agar ekspor beras tetap memberikan keuntungan bagi petani dan negara. Bulog tidak ingin ekspor justru menekan margin petani di dalam negeri.
“Nah ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto juga kemarin di program KDKMP, kami diperintahkan jangan jual terlalu murah juga. Jadi jual yang betul-betul menguntungkan petani, bangsa, dan negara,” kata purnawirawan jenderal TNI bintang tiga tersebut.
.png)
8 hours ago
7















































