Hamas Pilih Khalil al-Hayya jadi Kepala Biro Politik

17 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kelompok Palestina Hamas telah mengumumkan terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai kepala baru biro politik mereka. Terpilihnya Al-Hayya pada hari Senin menyusul syahidnya pemimpin sebelumnya, Yahya Sinwar, akibat serangan tentara Israel di Jalur Gaza pada tahun 2024. 

Sinwar sebelumnya mengambil alih posisi tersebut setelah kepala biro politik Ismail Haniyeh dibunuh oleh Israel pada tahun yang sama. Al-Hayya sendiri pernah selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel di Qatar tahun lalu.

Merujuk Aljazirah, penunjukannya dilakukan setelah pemungutan suara putaran kedua di Dewan Syura Umum gerakan tersebut yang mempertemukannya dengan mantan kepala politik Khaled Meshaal, menyusul kegagalan kedua kandidat meraih suara mayoritas yang disyaratkan—yaitu 50 persen ditambah satu suara—pada pemungutan suara sebelumnya. 

Terpilihnya al-Hayya—yang sebelumnya merupakan pemimpin kelompok tersebut untuk wilayah Gaza saat berada dalam pengasingan—sejalan dengan kerangka kerja internal Hamas tahun 2021. Kerangka kerja ini mengharuskan posisi pimpinan puncak mencerminkan sektor-sektor geografis utamanya, yakni Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan diaspora. 

Al-Hayya, yang sempat menjadi bagian dari dewan pemimpin sementara beranggotakan lima orang yang dibentuk pada akhir 2024 untuk menangani pemerintahan di masa perang, kini akan menjabat hingga sisa masa bakti kepengurusan saat ini berakhir pada tahun 2027.  

Lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960, al-Hayya tumbuh dalam keluarga konservatif yang sangat terdampak oleh Perang Arab-Israel 1967 serta pendudukan Israel yang menyusul kemudian. Pengalamannya menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya di Gaza dan penangkapan kerabatnya semasa kecil turut membentuk kesadaran politik awalnya.

Pada Maret 1980, sebuah pertemuan penting dengan pendiri Hamas, Syekh Ahmed Yassin, membawanya terjun ke dalam kegiatan aktivisme yang terorganisasi. 

Al-Hayya menempuh pendidikan Islam secara mendalam; ia meraih gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada tahun 1983, gelar master dari Universitas Yordania pada tahun 1986, serta gelar doktor di bidang ilmu hadis dari Sudan pada tahun 1997.

Ia kemudian menjabat sebagai dekan bidang kemahasiswaan di Universitas Islam Gaza dan bergabung dengan Asosiasi Ulama Palestina. Sebagai salah satu pendiri Hamas pada tahun 1987, al-Hayya berulang kali dipenjara oleh pasukan Israel selama pemberontakan Palestina yang dikenal sebagai Intifada Pertama pada akhir tahun 1980-an, serta mengalami penyiksaan berat selama masa penahanannya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |