Setoran dana haji (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan salah satu faktor musiman (seasonal) yang menyebabkan rupiah mengalami tekanan saat ini adalah karena kebutuhan dolar AS yang cukup tinggi pada musim haji. Menanggapi persoalan tersebut, BI menyatakan tengah berupaya menjalin kerja sama penerapan Local Currency Transaction (LCT) dengan Arab Saudi.
“Momen haji memang masih bergantung dengan dolar. Justru itu, kita ingin berubah, kita ingin punya LCT dengan Saudi Arabia,” ungkap Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk ‘Penguatan Kebijakan Valas Dan Intermediasi Untuk Stabilitas Rupiah Dan Pertumbuhan Kredit’ di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat(22/5/2026).
Ruth mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan untuk bisa menggolkan keinginan menjalin kerja sama LCT dengan Arab Saudi. “Itu sedang kami usahakan ya,”tegas dia.
Diketahui, LCT ialah penyelesaian transaksi yang dilakukan secara bilateral oleh pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra dengan menggunakan mata uang negara mitra melalui bank Appointed Cross Currency Dealers (AACD).
Inisiasi menghadirkan kerjasama LCT merupakan salah satu langkah untuk meminimalisasi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS. Sebab, penggunaan dolar AS memang sudah masuk ke dalam struktural ekonomi yang mana aktivitas ekspor dan impor selalu menggunakan valuta asing.
Implementasi LCT Indonesia telah dimulai sejak 2018. Mulanya kerja sama dilakukan bersama Malaysia dan Thailand, yang kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea Selatan, dan UAE. Sementara itu, implementasi LCT dengan Singapura dan India akan dilakukan setelah penyusunan serta kesepakatan operational guidelines.
.png)
9 hours ago
5















































