Ground Breaking Giant Sea Wall Dijadwalkan Oktober, Bappeda Jateng Mengaku Belum Tahu Desainnya

5 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Yusmanto mengungkapkan, ground breaking pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di kawasan Panturan Jateng dijadwalkan dimulai pada Oktober 2026 mendatang. Namun dia mengaku belum memperoleh detail engineering design (DED) atau desain rancang bangun rinci dari Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).

"Giant sea wall ini rencananya Badan Otorita (Pantura) itu akan ground breaking perkiraan bulan Oktober. Itu saja konstruksinya bentuknya seperti apa, kemudian titiknya di mana, sejauh mana, ini juga kami belum dapat kepastian berapa kilometernya. Termasuk titiknya di mana," ungkap Yusmanto ketika diwawancara di Kota Semarang, Jumat (17/7/2026).

Dia mengakui, pihaknya belum memperoleh DED proyek giant sea wall Pantura. Kendati demikian, Yusmanto mengatakan, Bappeda Jateng tentu akan mengikuti keputusan dan prioritas BOPPJ. "Kalau kami menyarankan, mengusulkan, dan mendorong kuat yang diselesaikan dulu yang di Teluk Semarang," ujarnya.

Dia menambahkan, setelah Teluk Semarang, Bappeda Jateng menyarankan agar pembangunan giant sea wall diteruskan ke arah timur Pantura, yakni Demak dan seterusnya. Setelah itu, prioritas berikutnya adalah wilayah barat Pantura Jateng.

"Kalau Kendal dan Batang relatif aman ya karena sudah dibentengi kawasan ekonomi khusus. Mereka akan mempertahankan itu, jadi masyarakat sudah aman. Prioritas kedua adalah Pekalongan, kabupaten dan kota, kemudian Tegal," ucap Yusmanto.

Dia menerangkan, penurunan muka tanah di pesisir Semarang rata-rata mencapai 12 sentimeter per tahun. Sementara Demak dan Pekalongan bisa menyentuh 16 sentimeter per tahun. Penurunan muka tanah tersebut diiringi dengan naiknya permukaan air laut.

"Jadi tanahnya ambles, lautnya naik. Cuman yang paling parah yang titik-titik tadi mulai Tegal, Pekalongan, kemudian Semarang, Demak," kata Yusmanto.

Dia menjelaskan, terkait pembangunan giant sea wall di Teluk Semarang, detail teknis konstruksinya masih dipelajari. "Teluk Semarang ini kan basisnya bukan pasir, tapi lumpur. Mereka masih belajar juga dari proyek jalan tol (Semarang-Demak) yang katanya menggunakan jutaan batang bambu itu. Jadi itu kan diuruk tapi masih menurun terus, nah ini jadi pelajaran untuk pembangunan giant sea wall-nya," tuturnya.

Menurut Yusmanto, tanggul laut raksasa di Pantura rencananya dibangun 12 mil dari bibir pantai. Dia berpendapat hal itu tentu akan menjadi tantangan dalam proses konstruksinya. "Apakah konstruksinya pasir seperti yang ada di Dubai, ataukah nanti masif seperti bendungan batu, ataukah nanti gabungan antara seperti yang dipakai untuk jalan tol. Jadi ini tiap daerah punta karakter masing-masing," ucapnya.

"Jadi kalau nanti Badan Otorita bekerja (membangun giant sea wall) dari Serang sampai Banyuwangi, itu mesti konstruksinya beda-beda," tambah Yusmanto.

Ketika ditanya soal pendanaan, Yusmanto belum mengetahui apakah tanggul laut raksasa di Pantura Jawa akan dibangun sepenuhnya menggunakan APBN atau pemerintah daerah harus ikut urunan. "Ini masih dikaji oleh BOPPJ," ujarnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |