Google Gemini Arena 2026, Ajang AI Global Antar Mahasiswa UBSI Kampus Purwokerto Jadi Juara

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO - Google Gemini Arena 2026 menjadi salah satu ajang kompetisi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang menarik perhatian peserta dari berbagai negara. Kompetisi ini menguji kemampuan kreativitas dan pemanfaatan teknologi AI, khususnya dalam menghasilkan karya berbasis platform Gemini dengan teknik prompting yang presisi dan inovatif.

Dengan total 19.035 peserta dari berbagai universitas dan negara, persaingan dalam ajang ini terbilang ketat. Peserta ditantang untuk menciptakan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai edukatif serta pesan yang kuat.

Di tengah kompetisi berskala global tersebut, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto, Annida Syamsa Hawa, berhasil meraih gelar Winner Google Gemini Arena 2026. Capaian ini sekaligus memperkuat peran UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang mendorong mahasiswanya aktif berinovasi di bidang teknologi.

Annida mengaku awalnya mengetahui informasi kompetisi tersebut melalui media sosial saat libur semester. Ketertarikannya muncul setelah mengetahui bahwa ajang ini diikuti oleh peserta internasional.

“Aku langsung tertarik buat ikut, sekalian mengisi waktu luang. Tapi setelah tahu pesertanya dari berbagai negara, jadi semakin tertantang,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (28/3/2026).

Dalam kompetisi tersebut, Annida memilih kategori komik edukasi dengan mengangkat tema Artificial Intelligence, khususnya Machine Learning. Ia berupaya menyederhanakan konsep AI agar lebih mudah dipahami melalui media visual yang menarik, sejalan dengan semangat inovasi yang terus dikembangkan UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif.

Proses pembuatan karya dilakukan dengan memanfaatkan Gemini AI secara penuh. Annida menekankan bahwa kunci utama dalam kompetisi ini terletak pada teknik prompting yang detail dan terarah.

Prompt itu tricky, harus sangat detail, mulai dari warna, karakter, sampai layout komiknya,” jelasnya.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, ia bahkan membuat sketsa terlebih dahulu di atas kertas sebelum menyusun prompt. Selama proses tersebut, ia melakukan trial and error berulang kali hingga menghasilkan karya yang sesuai ekspektasi.

Karya yang dibuat menjelaskan konsep machine learning, bahwa AI belajar dari data. Semakin banyak data yang digunakan, semakin akurat hasil prediksi, sedangkan data yang terbatas dapat menyebabkan bias.

Atas pencapaiannya tersebut, Annida mengaku bangga dapat membawa nama kampus ke tingkat internasional.

“Jujur sangat senang dan tidak menyangka bisa menang. Bisa membawa nama UBSI ke kancah global tentu menjadi kebanggaan tersendiri,” ungkapnya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di ajang global, sekaligus menunjukkan bahwa UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus melahirkan talenta yang adaptif dan siap menghadapi perkembangan teknologi dunia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |