Gaji hingga Rp2,53 Miliar: 4 Profesi yang Sulit Digantikan AI Menurut Bill Gates

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saat AI mulai menggeser berbagai jenis pekerjaan di seluruh dunia, kekhawatiran akan hilangnya jutaan lapangan kerja pun semakin menguat. Namun, pendiri Microsoft Bill Gates, sebagaimana diberitakan sebelumnya, menilai masih ada beberapa profesi yang relatif aman dari ancaman otomatisasi karena membutuhkan kemampuan yang belum mampu sepenuhnya digantikan kecerdasan buatan.

Menariknya, selain diperkirakan memiliki prospek jangka panjang, profesi-profesi tersebut juga menawarkan gaji rata-rata yang sangat tinggi di Amerika Serikat. Lalu, pekerjaan apa saja yang dimaksud Bill Gates dan berapa besar penghasilannya?

Programmer: Dibantu AI, Bukan Digantikan

Profesi programmer atau software developer justru makin strategis di tengah ledakan AI. Mesin memang mampu menulis kode sederhana, membantu mencari bug, hingga menyusun kerangka aplikasi. Namun, AI belum bisa sepenuhnya menggantikan manusia dalam pekerjaan yang paling menentukan, seperti merancang arsitektur sistem, memahami kebutuhan pengguna, mengambil keputusan teknis, menjaga keamanan aplikasi, hingga memperhitungkan dampak bisnis dari setiap baris kode.

Keahlian tersebut dihargai sangat tinggi di Amerika Serikat. Data U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS) mencatat median pendapatan software developer mencapai 133.080 dolar AS atau sekitar Rp2,39 miliar per tahun pada Mei 2024. Angka itu setara sekitar 11.090 dolar AS atau Rp198,96 juta per bulan sebelum pajak.

Prospeknya pun terus menguat. BLS memproyeksikan lapangan kerja software developer tumbuh 15 persen pada periode 2024–2034, jauh lebih cepat dibanding rata-rata seluruh pekerjaan. Di era AI, programmer bukan lagi sekadar penulis kode, melainkan perancang sistem yang memastikan kecerdasan buatan bekerja sesuai kebutuhan manusia, aman digunakan, dan mampu menciptakan nilai bagi bisnis maupun masyarakat.

Ahli Biologi: AI Membantu Riset, Manusia Tetap Menentukan

Profesi ahli biologi, khususnya biochemists and biophysicists, juga diperkirakan tetap menjadi salah satu bidang yang paling sulit digantikan AI. Perkembangan kecerdasan buatan memang telah mempercepat berbagai proses penelitian, tetapi belum mampu mengambil alih seluruh peran ilmuwan dalam menghasilkan penemuan baru.

AI saat ini mampu menganalisis jutaan data genetik, mempercepat pencarian kandidat obat, hingga memprediksi struktur protein dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Kemampuan tersebut membantu mempercepat riset, terutama di bidang kesehatan dan bioteknologi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |