Lakeisha
Teknologi | 2026-07-01 18:48:29
Foto ilustrasi: Pinterest
Selama hampir satu abad, manusia semakin pintar. Setiap dekade, rata-rata skor IQ populasi dunia naik secara konsisten. Anak-anak tumbuh lebih tinggi, lebih sehat, dan tampaknya lebih cakap secara kognitif dari generasi sebelumnya. Fenomena ini bahkan memiliki nama Flynn Effect, dinamai dari filsuf dan peneliti inteligensi James Flynn. Selama sembilan puluh tahun, beliau mendokumentasikannya kurva yang terus menanjak dan kita tidak akan pernah menyangka masa terjadi penurunan kurva itu. Ternyata, masa itu terjadi sekarang.
Bratsberg dan Rogeberg (2018) menganalisis data kognitif dari tiga dekade kelahiran laki-laki Norwegia dan menemukan bahwa tren kenaikan IQ memang berbalik. Hal ini mencerminkan faktor lingkungan, bukan komposisi genetik populasi. Temuan itu mengguncang karena terbukti terdapat perbedaan skor kecerdasan tiap generasi saudara kandung dari keluarga yang sama, yang berarti penyebabnya bukan keturunan.
Tes IQ wajib militer dari Finlandia, Norwegia, Denmark, Estonia, Inggris, Prancis, Belanda, dan Australia semuanya menunjukkan penurunan yang dimulai sejak pertengahan 1990-an. Studi dari Northwestern University yang menganalisis data kognitif hampir 400.000 orang dewasa Amerika antara 2006 hingga pertengahan 2010-an turut memperkuat tren penurunan IQ ini. Generasi Z yang lahir antara 1997 hingga 2012, tampaknya menjadi generasi pertama yang sepenuhnya berada di sisi menurun dari kurva IQ tersebut, dengan estimasi penurunan antara dua hingga lima poin dibanding generasi diatasnya.
Ilmuwan menyebutnya fenomena ini sebagai Reverse Flynn Effect. Selama dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di sebagian besar negara maju mengalami stagnasi dan bahkan kemunduran di banyak domain, mencakup literasi, numerasi, perhatian, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi. Meski tingkat kehadiran sekolah meningkat dan investasi publik terus diperluas (Horvath, 2026). Data dari asesmen internasional skala besar seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS yang melibatkan jutaan siswa selama beberapa dekade bahkan secara kolektif mengarah pada kesimpulan yang sama yaitu paparan layar yang intens di ruang kelas tidak meningkatkan hasil belajar secara luas (Horvath, 2026).
Di sisi lain, faktor psikologis juga terbukti memainkan peran signifikan. Studi longitudinal selama hampir tiga dekade terhadap 292 partisipan menemukan bahwa tingkat stres yang dipersepsikan lebih tinggi di usia pertengahan secara signifikan (Christensen et al., 2023). Generasi Z, yang tumbuh di tengah tekanan akademik, krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, sekaligus banjir stimulus digital sejak usia dini. Generasi inilah yang pertama kali dalam sejarah, secara bersamaan mengalami stres kronis dan degradasi lingkungan kognitif sejak masa pembentukan otak.
Lalu bagaimana faktor-faktor tersebut memengaruhi kerja otak Generasi Z? Jawabannya ada pada sebuah konsep yang disebut cognitive offloading, yakni tindakan mendelegasikan tugas-tugas kognitif kepada sumber daya eksternal guna mengurangi beban mental (Risko & Gilbert, 2016).
Pada dasarnya, cognitive offloading adalah respons alami otak manusia terhadap keterbatasan working memory yang memang bersifat terbatas, baik dari segi kapasitas maupun durasinya (Jones, 2025). Seperti mencatat nomor telepon di kontak ponsel, membuat daftar belanja, atau menyimpan jadwal di aplikasi kalender, semua itu adalah bentuk cognitive offloading yang sehat dan adaptif. Namun semua berubah menjadi jauh lebih serius ketika praktik ini menjadi substitusi permanen dari proses berpikir itu sendiri. Kehadiran AI mengambil alih tugas kognitif secara terus-menerus tanpa memberi ruang bagi individu untuk mengembangkan strategi internalnya sendiri, yang terjadi bukan lagi penguatan kemampuan berpikir, melainkan erosi bertahap terhadap kapasitas kognitif (Chirayath et al., 2025). Inilah yang kini terjadi secara masif pada Generasi Z. Mereka tumbuh dalam ekosistem digital yang sejak dini sudah menjawab setiap pertanyaan, menyelesaikan setiap tugas, dan mengisi setiap kekosongan kognitif secara instan, sebelum otak sempat berusaha.
Banyak dijumpai, para mahasiswa yang mengandalkan Generative AI (GAI) dalam menyelesaikan tugas dan kegiatan pembelajaran sehari-hari berpotensi mengalami pengurangan keterlibatan dalam proses kognitif, khususnya pada working memory (Mahmud et al., 2026). Banyak individu kehilangan kesempatan untuk mengembangkan strategi independen dan dari waktu ke waktu, ketergantungan ini mengikis imunitas psikologis, membuat seseorang tidak siap menghadapi tekanan di konteks mana pun tanpa bantuan teknologi (Chirayath et al., 2025). Dengan kata lain, Generasi Z tidak sedang menjadi lebih bodoh. Mereka tanpa sadar dibentuk untuk tidak perlu berpikir.
Meski data mengenai penurunan skor kognitif Gen Z sulit diabaikan, namun saya memiliki sudut pandang dan opini lain. Berkaca dari seorang Filsuf Socrates, yang pernah menentang tradisi menulis dengan alasan bahwa aksara akan melemahkan daya ingat manusia. Otak tidak lagi dipaksa menyimpan pengetahuan secara mandiri. Kekhawatiran itu masuk akal pada zamannya. Namun, terbukti, manusia tidak menjadi lebih bodoh setelah menemukan tulisan. Manusia hanya menjadi berbeda dalam cara berpikir dan dari perbedaan itulah lahir peradaban yang jauh lebih kompleks. Maka saya tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian dari apa yang sedang terjadi pada Gen Z adalah proses serupa. Rewiring, otak yang sedang belajar beroperasi dalam ekosistem yang belum pernah ada sebelumnya.
Tulisan tidak menghapus kemampuan berpikir, itu justru memperluas kapasitasnya manusia. Cognitive offloading pun sejatinya bisa bekerja dengan cara yang sama, selama penggunanya yang memegang kendali. Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesadaran dalam menggunakannya. Gen Z yang secara sadar memilih kapan harus menyerahkan tugas kepada teknologi dan kapan harus berpikir sendiri. Yang perlu diwaspadai bukan pergeserannya, melainkan ketika kebiasaan menyerahkan segalanya kepada teknologi terjadi tanpa sadar, tanpa pilihan, dan tanpa batas, hingga kemampuan berpikir mandiri tidak lagi dilatih.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
7 hours ago
6










































