Dunia Kecam Pembajakan Israel pada Global Sumud Flottila

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Israel mencegat 22 dari 58 kapal bantuan kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flottila (GSF) 2026. Pelayaran kedua inisiatif itu setelah tahun 2025 lalu berangkat dari Barcelona, Spanyol pada 12 April 2026.

Kantor berita Aljazirah mencatat berdasarkan pernyataan penyelenggar GSF 2026, Israel "menculik" 211 dari 400 aktivis yang mengikuti pelayaran tersebut, termasuk konselor kota Paris. Kementerian Luar Negeri Israel mengaku mereka menahan 175 orang.

Sebelumnya, Republika yang juga terlibat dalam pelayaran ini melaporkan tidak ada warga negara Indonesia yang ditahan Israel dalam pencegatan tersebut. Pembajakan terjadi di perairan internasional Laut Mediterania di dekat perairan Yunani, pada Kamis (30/4/2026).

Sejumlah negara sudah menyampaikan kecaman atas pembajakan ini. Italia mendesak Israel untuk membebas warga Italia yang ikut dalam pelayaran tersebut.

"(Italia) mengecam penyitaan kapal-kapal Global Sumud Flottila dan meminta Israel semua warga negara Italia yang ditahan secara ilegal," kata pemerintah Italia dalam pernyataannya seperti dikutip dari Aljazirah, Jumat (1/5/2026).

Kantor berita Italia, ANSA melaporkan terdapat 24 warga Italia yang ditahan. Dalam pernyataannya, pemerintah Italia mendesak Israel untuk menghormat hukum internasional dan menjamin keselamatan orang-orang di dalam kapal. Italia juga menegaskan akan melanjutkan penyaluran bantuan ke Gaza sesuai dengan kerangka kerja sama negara itu.

Sementara dalam pernyataan gabungan dengan Italia, Jerman mengungkapkan mereka mengikuti perkembangan pelayaran GSF 2026 dengan sangat khawatir. Jerman juga meminta Israel menghormati hukum internasional dan menahan diri dari segala bentuk tindakan tidak bertanggung jawab.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut pencegatan yang dilakukan Israel terhadap GSF 2026, ilegal. Beberapa warga Spanyol yang ikut dalam pelayaran berada di atas kapal yang dibajak.

"Sekali lagi Israel melanggar hukum internasional dengan menyerang warga sipil flottilla di perairan yang bukan miliknya," kata Sanchez di media sosial X.

Sanchez menegaskan Spanyol akan melindungi dan membantu semua warganya yang ditahan Israel. Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Spanyol juga mengatakan "sangat mengecam" penyitaan kapal-kapal GSF 2026 yang membawa warga Spanyol. Madrid sudah memanggil charge d’affaires (pelaksana tugas duta besar) Israel untuk memprotes pembajakan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Turki menyebut pencegatan yang dilakukan Israel sebagai "aksi pembajakan."

“Dengan menargetkan Armada Global Sumud, yang misinya adalah menarik perhatian pada bencana kemanusiaan yang dihadapi orang-orang tak berdosa di Gaza, Israel juga telah melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya.

Iran juga menyebut pencegatan tersebut sebagai aksi pembajakan. Di stasiun televisi Iran, IRIB, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan "serangan" Israel pada GSF 2026 adalah "pukulan bagi kemanusiaan." Ia mendesak komunitas internasional untuk mendukung pelayaran tersebut dan mendesak Israel membebaskan para aktivis.  

Dalam unggahan di aplikasi kirim-pesan Telegram, Hamas mengutuk pencegatan tersebut. Hamas mengatakan Israel melakukan kejahatan tanpa akuntabilitas, kelompok perjuangan pembebasan Palestina itu juga mendesak Israel membebaskan para aktivis yang ditahan.

Dalam pernyataann yang diunggah di media sosial, organisasi kemanusiaan, Amnesty International mendesak Israel membebaskan para aktivis dan kru kapal GSF 2026. Amnesty International juga meminta Israel memberikan akses konsular pada aktivis yang ditahan dan melindungi mereka dari penyiksaan dan pelanggaran kemanusiaan lainnya.

Reporters Without Borders (dikenal dengan akronim Perancis RSF) juga mengecam Israel karena “menculik” tiga jurnalis di kapal Global Sumud Flotilla tujuan Gaza. Dalam sebuah postingan di media sosial pada hari Kamis, RSF mengatakan Israel "menculik" terhadap koresponden Prancis Hafed Mribah dan juru kamera Turki Mahmut Yavuz, yang bekerja untuk Aljazirah, dan jurnalis Alex Colston, yang bekerja untuk outlet media AS Zeteo.

“Israel bertanggung jawab atas keselamatan mereka,” kata RSF.

Jaringan Media Aljazirah menegaskan Israel bertanggung jawab atas keselamatan Mribah dan Yavuz. Jaringan juga mendorong komunitas internasional untuk bersatu melawan pelanggaran berulang Israel terhadap hukum dan konvensi internasional. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |