Di Tengah Lebaran, Kekerasan di Tepi Barat Meningkat

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID,  TEPI BARAT -- Saat umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, warga Palestina di Tepi Barat justru menghadapi gelombang kekerasan yang kian meningkat di tengah situasi konflik yang terus memburuk.

Dilansir Aljazirah pada Selasa (24/2/2026), di sejumlah wilayah yang diduduki, gerbang masuk ke komunitas Palestina dilaporkan diblokir oleh pemukim Israel. Tidak hanya itu, aksi kekerasan juga meluas dalam bentuk pembakaran rumah, perusakan kendaraan, hingga penghancuran kebun zaitun menggunakan buldoser.

Ketegangan juga terasa di kawasan suci Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Untuk pertama kalinya sejak pendudukan Israel pada 1967, kompleks masjid tersebut dilaporkan dikosongkan dari jamaah Muslim saat Idul Fitri. Aparat Israel bahkan menggunakan granat suara dan kekerasan fisik untuk membubarkan warga Palestina yang mencoba beribadah di sekitar gerbang Kota Tua.

Dampak konflik semakin mematikan pada 18 Maret lalu. Empat perempuan Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat puing-puing roket di wilayah Beit Awwa, Tepi Barat selatan—sebuah daerah yang tidak memiliki sistem peringatan serangan udara maupun tempat perlindungan bom.

Situasi kian memanas setelah kematian seorang pemukim Israel, Yehuda Sherman. Insiden tersebut memicu serangan balasan besar-besaran. Sekitar 100 pemukim bertopeng menyerbu desa Jalud dan Qaryut di selatan Nablus. Mereka membakar sedikitnya lima kendaraan, lebih dari 10 rumah, serta gedung dewan desa. Bahkan, sebuah masjid nyaris dibakar.

Aksi serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain, seperti Deir Sharaf, Deir al-Hatab, dan Burqa. Serangan tersebut berlangsung meskipun terdapat kehadiran tentara dan polisi Israel di sekitar lokasi.

Di sisi lain, penangkapan justru banyak menimpa warga Palestina. Dalam sejumlah kasus, pasukan Israel dilaporkan tidak mencegah serangan pemukim, bahkan turut melakukan penangkapan terhadap warga, termasuk anak-anak.

Selain kekerasan fisik, tekanan juga dilakukan melalui perebutan lahan. Di berbagai wilayah seperti Nilin dan Huwara, ratusan hingga ribuan pohon zaitun diratakan. Di Masafer Yatta, para pemukim bahkan melepaskan ternak ke lahan pertanian warga untuk merusak tanaman.

Otoritas Israel juga mengeluarkan perintah penyitaan ratusan dunam tanah di wilayah Tubas dan Tammun untuk kepentingan militer. Penghancuran rumah warga pun terus terjadi, termasuk di Fasayel al-Wusta di Lembah Yordania.

Pembatasan pergerakan semakin memperparah kondisi. Jalan-jalan utama ditutup, termasuk Jalan Raya 60 yang menjadi akses penting bagi warga Palestina. Blokade ini membuat banyak komunitas terisolasi, bahkan akses hanya diberikan untuk ambulans dengan koordinasi khusus.

Menurut organisasi HAM Israel, B’Tselem, sejak pecahnya konflik terbaru pada akhir Februari, sedikitnya 14 warga Palestina telah meninggal dunia di Tepi Barat, termasuk anak-anak.

Sementara itu di Jalur Gaza, krisis kemanusiaan juga semakin memburuk. Pembatasan bantuan menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok. World Health Organization memperingatkan rumah sakit kini kekurangan obat-obatan, perlengkapan medis, dan bahan bakar.

Serangan udara Israel juga masih terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. Dalam beberapa hari terakhir, korban jiwa terus bertambah, termasuk anak-anak dan petugas sipil.

Di tengah suasana Idul Fitri yang seharusnya menjadi momentum kedamaian, warga Palestina justru dihadapkan pada realitas kekerasan, pembatasan, dan krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |