REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyiapkan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 400 triliun di lima bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Tambahan likuiditas tersebut diharapkan memperkuat penyaluran kredit ke sektor produktif, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga pembiayaan perumahan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Penempatan dana SAL dilakukan untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan likuiditas yang lebih kuat, bank diharapkan memiliki ruang yang lebih besar untuk menjalankan fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit kepada dunia usaha maupun masyarakat.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan tambahan likuiditas akan dimanfaatkan untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif, terutama UMKM yang selama ini menjadi fokus utama perseroan. Menurut dia, penyaluran pembiayaan tetap dilakukan secara selektif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian agar memberikan dampak nyata terhadap perekonomian.
"Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak perekonomian nasional," ujar Hery, dikutip Selasa (30/6/2026).
Hingga Maret 2026, pembiayaan bank only BRI telah mencapai Rp 1.358 triliun dan mayoritas disalurkan kepada UMKM serta sektor riil.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menilai penempatan dana SAL turut membantu memperkuat likuiditas perbankan sehingga biaya dana (cost of fund) dapat lebih efisien. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank untuk menjaga pembiayaan tetap kompetitif sehingga masyarakat dan pelaku UMKM memiliki akses pembiayaan yang lebih terjangkau.
"Kami mengapresiasi kepercayaan pemerintah kepada BSI. Amanah ini kami optimalkan untuk memperkuat pembiayaan produktif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha," kata Anggoro.
Hingga April 2026, BSI mencatat dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 382 triliun atau tumbuh 17,90 persen secara tahunan. Sementara itu, pembiayaan meningkat 15,59 persen menjadi Rp 332 triliun dengan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) bruto membaik menjadi 1,80 persen.
Sementara itu, BTN akan memanfaatkan tambahan likuiditas untuk memperkuat penyaluran kredit, khususnya pada sektor perumahan. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan likuiditas yang lebih kuat akan mendukung fungsi intermediasi sehingga penyaluran kredit dapat terus ditingkatkan.
"Penempatan dana SAL ini bukan sekadar memperkuat fundamental likuiditas perusahaan, tetapi menjadi stimulus bagi kami untuk terus menggerakkan roda perekonomian melalui penyaluran kredit yang lebih agresif, namun tetap terukur," ujar Nixon.
.png)
6 hours ago
6












































