Campak Masih Mengintai, Pakar Imbau Orang Tua Nggak Ragu Soal Vaksin

7 hours ago 6

Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi kasus campak di Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Kementerian Kesehatan melaporkan adanya penurunan kasus hingga 90 persen di beberapa wilayah. Namun, di balik capaian tersebut, masih ditemukan kasus kematian dan klaster penularan di sejumlah daerah.

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Airlangga, Jayanti Dian Eka Sari, menilai situasi ini belum sepenuhnya aman. "Penurunan kasus memang menjadi kabar baik, tetapi ini belum menandakan masalah sudah selesai. Kondisinya masih berada pada fase pengendalian, belum eliminasi," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada akhir pekan lalu.

Menurutnya, campak saat ini tidak hanya menjadi isu penyakit menular semata, tetapi juga mencerminkan kapasitas sistem kesehatan serta perilaku masyarakat. Dari perspektif promosi kesehatan, tantangan utama bukan lagi ketersediaan vaksin melainkan faktor perilaku.

"Masalah utamanya adalah keraguan terhadap vaksin, rendahnya persepsi risiko, serta kelelahan akses atau access fatigue. Artinya, masyarakat harus terus beradaptasi untuk mengakses layanan kesehatan," kata dia.

Dia menilai program promosi kesehatan pemerintah telah meningkatkan cakupan imunisasi secara umum. Meskipun efektivitasnya belum merata di semua wilayah dan kelompok sosial.

"Program sudah efektif secara makro, tetapi belum presisi menjangkau kelompok yang ragu, sulit akses, atau terpapar hoaks. Imunisasi bukan gagal karena kurang informasi, tetapi karena pesan belum cukup meyakinkan," kata Jayanti.

la juga menekankan bahwa campak merupakan fenomena multifaktorial. Ketersediaan vaksin tidak otomatis menjamin perlindungan masyarakat jika masih terdapat kesenjangan cakupan imunisasi. Karena selama masih ada anak yang belum imunisasi lengkap, maka penularan tetap memiliki celah.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |