Oleh Fitriyan Zamzami
REPUBLIKA.CO.ID, BIAK NUMFOR -- Ledakan di kepulauan Biak Numfor, Papua, yang menewaskan lima warga pada Ahad disebut dari rudal peninggalan Perang Dunia II. Bagaimana ceritanya gugusan pulau di tepian Samudera Pasifik itu menyimpan residu perang besar tersebut?
Republika sempat menyambangi Pulau Biak beberapa waktu silam untuk mencari tahu soal sejarah tersebut. Di sana, saya menemui Didimus Nowar (80 tahun), satu dari sedikit saksi mata perang besar di Biak pada 1940-an. Ia adalah budayawan setempat penggubah lirik-lirik wor, alias seni suara setempat.
Tete Didi menceritakan, ia masih ingat betul saat itu, kala amyas ampero, yang artinya nyala api, berkobar di seantero pulau. “Perang dimana-mana. Di timur, di utara, di barat,” tutur Tete Didi yang berkacamata tebal dan giginya masih utuh serta berwarna merah kunyahan sirih pinang itu.
Tak bisa lupa juga Tete Didi dengan rerupa myumbo dare, pembunuhan, yang ia saksikan. Sebagian oleh senapan, dan sebagian lainnya sumber mamunine, dengan pedang.
Perjalanan punya cara yang tak terduga untuk mempertemukan orang-orang. Tanpa direncanakan, saya bersirobok dengan Tete Didi dan rombongan penyanyi wor-nya, tepat di depan Monumen Peringatan Perang Dunia II di kawasan Parai, Pulau Biak, akhir 2015 lalu.
Monumen di Parai adalah tempat yang pertama saya kunjungi untuk menelusuri jejak Perang Dunia II di Biak. Monumen yang diresmikan tahun 1994, lebih tepatnya sejenis komplek seukuran setengah lapangan bola yang separuhnya dinaungi bangunan berbentuk cangkang kerang laut. Di bawah atap berbentuk cangkang, ada tiga set meja dan tempat duduk dari beton. Sementara di lantai di luar atap didirikan puluhan tugu-tugu kecil berbentuk kubus dan tabung.
Di Parai, Pasukan Jepang pertama kalinya mendarat di Biak dalam rangka kampanye penaklukan Nusantara pada awal 1942. Pulau Biak terletak di ujung paling utara Teluk Cendrawasih dan langsung menghadap ke Samudra Pasifik. Ini jadi pertimbangan pulau yang kini dihuni sekira 150 ribu warga ini diduduki.
Menurut Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Biak, Andries Kafiar, kala itu, kedatangan Jepang bertepatan dengan perayaan Koreri, sejenis peringatan kedatangan Ratu Adil di Biak. Pasukan Jepang menyangka perayaan ini bentuk perlawanan. Perang pun pecah, dan masyarakat Biak yang kalah persenjataan berhasil dipukul mundur ke hutan-hutan.
Pada Mei 1944, pasukan Amerika Serikat yang dipimpin Jendral Douglas McArthur tiba di Biak. Di lokasi monumen terjadi salah satu pertempuran tersengit antara tentara Jepang dengan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memperebutkan gugusan pulau di Samudra Pasifik ini. Tentara Jepang yang mencoba menahan pasukan Amerika di benteng yang dulu berdiri di lokasi monumen akhirnya kewalahan. Mereka kemudian melarikan diri melalui terowongan yang kini sudah tertutupi rimbunan semak di bagian belakang monumen.
Gua Jepang...
.png)
12 hours ago
9















































