ADPIKI Dorong Sinergi dan Hilirisasi Riset Ilmu Komunikasi di Era Digital

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) menegaskan pentingnya penguatan peran ilmu komunikasi dalam mendukung sinergi riset, hilirisasi inovasi, serta pembangunan nasional di tengah transformasi digital. Hal tersebut mengemuka dalam Simposium Nasional, Deklarasi, dan Pelantikan Pengurus Pusat ADPIKI di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria sebagai keynote speaker dengan tema 'Peran dan Tanggung Jawab Ilmu Komunikasi: Sinergi dan Hilirisasi Riset Kini dan Masa Depan'.

Arif Satria menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap komunikasi publik. Dia mengatakan media arus utama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi karena setiap individu kini dapat menjadi produsen sekaligus penyebar berita melalui platform digital. Menurutnya, pola komunikasi saat ini semakin bergantung pada algoritma media sosial yang menentukan arus informasi, preferensi publik, hingga pembentukan persepsi masyarakat.

“Hari ini semua orang bisa menjadi sumber berita dan algoritma memiliki pengaruh besar dalam menentukan apa yang dilihat dan dipercaya publik. Akibatnya, komunikasi sering kali tidak lagi berorientasi pada substansi, tetapi mengejar viralitas,” ujar Arif Satria.

Ia mengatakan komunikasi pada era digital juga tidak lagi sepenuhnya netral karena digunakan untuk membentuk opini dan membangun trust atau kepercayaan publik terhadap individu maupun institusi. Karena itu, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membangun kredibilitas di tengah derasnya arus informasi dan persaingan narasi di ruang digital.

Menurut Arif, penguatan silaturahmi dan jejaring sosial yang sehat menjadi penting untuk menjaga kualitas komunikasi publik dan memperkuat kepercayaan masyarakat. “Komunikasi pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun relasi sosial dan menghadirkan kredibilitas yang dipercaya masyarakat,” katanya.

Fenomena Banjir Informasi

Ketua Dewan Pertimbangan ADPIKI Antar Venus mengatakan perkembangan era digital dan AI telah menciptakan fenomena banjir informasi yang memunculkan tantangan baru bagi masyarakat, mulai dari misinformasi, disinformasi, hingga infodemi. Menurutnya, ilmu komunikasi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan penyebaran informasi yang akurat, berbasis ilmu pengetahuan, serta mampu membangun masyarakat yang kritis dan beretika di ruang digital.

“Di era digital dan AI, komunikasi bukan lagi sekadar proses penyampaian pesan, tetapi menjadi arena pembentukan realitas sosial. Karena itu, ilmu komunikasi harus hadir untuk memastikan informasi yang beredar tetap faktual, etis, dan mencerdaskan masyarakat,” ujar Antar Venus.

Ia juga menilai pendekatan komunikologis diperlukan untuk menghadapi dominasi algoritma dan arus informasi digital yang berpotensi memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan publik.

Antar Venus menambahkan komunikasi di era digital bersifat semakin egaliter, partisipatif, personal, dan terhubung secara interaktif sehingga membutuhkan fleksibilitas tindakan komunikasi dan penguatan literasi digital masyarakat.

Ia menekankan pentingnya komunikasi sains yang dibarengi kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, penguatan etika AI, perlindungan data pribadi, serta pengendalian konsumsi informasi digital agar masyarakat tidak terjebak dalam fenomena information overload dan kelelahan digital.

Sementara itu, Ketua Umum ADPIKI, Heri Budianto mengatakan pembentukan ADPIKI merupakan langkah konsolidatif untuk memperkuat posisi dosen dan peneliti ilmu komunikasi sebagai komunitas epistemik yang solid dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional. Menurutnya, hingga saat ini belum ada wadah nasional yang secara khusus merepresentasikan dosen dan peneliti ilmu komunikasi dalam percaturan kebijakan pendidikan tinggi dan riset nasional.

“ADPIKI hadir untuk membangun representasi kolektif dosen dan peneliti ilmu komunikasi, memperkuat legitimasi profesi, serta mengintegrasikan jejaring riset nasional guna meningkatkan daya saing publikasi, inovasi, dan hilirisasi keilmuan komunikasi,” kata Heri Budianto.

Ia menjelaskan keberadaan ADPIKI diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pengajaran dan penelitian ilmu komunikasi yang inovatif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan teknologi digital dan AI.

Selain itu, ADPIKI juga diharapkan menjadi ruang sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan praktisi komunikasi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk penguatan literasi publik, tata kelola informasi nasional, demokrasi digital, dan pengembangan industri kreatif.

“Kami ingin ADPIKI menjadi wadah yang mampu menyatukan gagasan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata ilmu komunikasi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional,” ujar Heri.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah akademisi dan organisasi profesi komunikasi nasional serta mitra internasional dari University of British Columbia (UBC), Kanada. Selain simposium nasional, agenda kegiatan dilanjutkan dengan deklarasi resmi berdirinya ADPIKI, pelantikan pengurus pusat periode 2026–2031, dan Rapat Kerja Nasional pertama sebagai langkah awal penguatan jejaring dosen dan peneliti ilmu komunikasi di Indonesia 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |