Pengungsi Palestina melaksanakan sholat Idul Adha di samping reruntuhan Masjid Al-Huda di Khan Younis, Jalur Gaza, Rabu (27/5/2026). Warga Gaza merayakan hari raya Idul Adha tanpa adanya penyembelihan hewan kurban di tengah kelangkaan pasokan, lonjakan harga yang gila-gilaan, serta puing-puing kehancuran pasca perang. Blokade dan hancurnya banyak peternakan akibat perang membuat pasokan hewan kurban sangat terbatas, sementara harganya melonjak hingga tak lagi terjangkau bagi sebagian besar warga.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, menyerukan kepada para mediator dan pihak-pihak penjamin perjanjian gencatan senjata agar berdiri bersama rakyat Jalur Gaza dalam menghadapi musuh yang tidak menghormati janji, kesepakatan, maupun kesucian perjanjian yang telah dibuat.
Dalam pidatonya, Abu Ubaidah juga mengonfirmasi gugurnya dua komandan Al-Qassam, Izzuddin Al-Haddad dan Mohammad Odeh, akibat serangan pasukan pendudukan Israel.
Ia menegaskan, perlawanan Palestina tidak sedang berbicara kepada Amerika Serikat, melainkan kepada umatnya sendiri agar tidak menyamakan antara korban dan pelaku kezaliman. Ia menyerukan agar mereka mengambil sikap terhormat yang kelak akan dicatat oleh sejarah.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menyatukan berbagai upaya dalam mengekang pendudukan Israel, yang disebutnya sebagai musuh bersama seluruh orang merdeka di dunia, serta memaksanya menjalankan seluruh kewajibannya.
Menurutnya, yang seharusnya dilakukan bukanlah terus menuntut rakyat Palestina yang tertindas dan berduka untuk memberikan lebih banyak konsesi.
Abu Ubaidah menambahkan, "Kami sedang menghadapi musuh yang hina, yang tidak menghormati kesepakatan, salah membaca situasi, dan keliru dalam memperhitungkan keadaan."
Ia menegaskan, "tagihan perhitungan" terhadap Israel akan tetap terbuka hingga musuh membayar seluruh konsekuensinya dengan harga yang mahal.
Saat penentuan sikap
Abu Ubaidah menegaskan bahwa serangkaian pembunuhan terarah, pembantaian harian terhadap rakyat Palestina—baik orang tua, perempuan, maupun anak-anak—serta berbagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan pengingkaran Israel terhadap komitmennya, telah menempatkan para mediator dan penjamin kesepakatan di hadapan momen penentuan sikap.
sumber : Antara
.png)
10 hours ago
2

















































