REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez mengatakan sekurangnya 32 orang tewas dan 700 lainnya terluka dalam gempa besar yang melanda Venezuela pada Rabu (25/6/2026) waktu setempat. Angka tersebut merupakan informasi pertama yang disampaikan Rodriguez terkait jumlah korban gempa.
Para seismolog mengkonfirmasi gempa besar pertama bermagnitudo 7,2 melanda dekat kota San Felipe, ibu kota negara bagian Yaracuy. Sekitar 40 detik kemudian, gempa kedua yang lebih besar bermagnitudo 7,5 kembali terjadi di tenggara kota Yumare. Gempa tersebut merupakan gempa terbesar yang pernah melanda Venezuela dan yang terkuat selama 125 tahun terakhir.
Menurut dinas Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), episentrum tersebut berkedalaman 10 kilometer dari permukaan tanah dan titiknya berada di barat wilayah pesisir Moron. Gempa tersebut terasa dengan sangat kuat di ibu kota Caracas sehingga menyebabkan ambruknya sejumlah bangunan.
USGS memperkirakan jumlah korban tewas dapat mencapai ribuan, dengan rentang jumlahnya dari 10 ribu hingga 100 ribu orang. Dengan tujuan utama untuk menyelamatkan nyawa, Presiden Rodriguez mengatakan bahwa otoritas setempat berfokus menyelamatkan korban yang terjebak di reruntuhan gedung dan rumah-rumah yang hancur, menurut laporan teleSUR.
"Kami menetapkan status darurat nasional, sebagaimana diatur dalam konstitusi kami," kata Rodriguez dalam sebuah pidato video pada Rabu malam waktu setempat.
Ia menambahkan bahwa bandara utama Venezuela, Maiquetia, terpaksa ditutup total akibat mengalami kerusakan yang cukup parah.
"Sejumlah wilayah dilaporkan terdampak sangat parah. Di ibu kota Caracas, gedung-gedung runtuh di berbagai area. Negara bagian Miranda dan La Guaira juga mengalami kerusakan signifikan... termasuk juga wilayah Aragua, Carabobo, dan Falcon," jelas Rodriguez.
Lebih lanjut, Rodriguez menyebutkan bahwa sedikitnya 20 gempa susulan telah tercatat pasca dua gempa utama tersebut.
"Saya ingin berterima kasih kepada pemerintah di seluruh dunia yang segera menghubungi Venezuela setelah gempa terjadi untuk menyampaikan rasa solidaritas dan dukungan mereka," ungkap Rodriguez.
Presiden Venezuela Nicolas Madura, yang saat ini ditahan di Amerika Serikat, meminta rakyat Venezuela bersatu dan saling membantu menyusul gempa besar yang mengguncang negara Amerika Selatan itu pada Rabu.
"Di masa-masa sulit ini, kami menyerukan persatuan nasional, ketenangan, serta bantuan yang nyata: untuk saling menolong, melindungi, berbagi, menguatkan, dan memulihkan. Venezuela telah melewati berbagai ujian besar, dan kita juga akan bangkit dari cobaan ini dengan lebih kuat—melalui iman, disiplin, dan solidaritas," kata Maduro dalam sebuah pernyataan di platform X.
sumber : Antara, Anadolu
.png)
1 hour ago
1

















































