REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Strategi Kebijakan dan Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung (BSDK MA) menyelenggarakan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim Lingkungan Peradilan Umum, Agama, Militer dan Tata Usaha Negara, Ad Hoc Seluruh Indonesia pada 6-10 April 2026.
Kegiatan yang digelar secara daring dihadiri peserta sebanyak 229 orang. Pelatihan ini bertujuan menegaskan pentingnya filsafat sebagai fondasi dalam menjaga independensi dan kebijaksanaan hakim di tengah kompleksitas hukum.
Pakar filsafat Universitas Indonesia, Tommy F Awuy menyebut hakim tidak hanya mengacu pada teks hukum formal. Tommy mendorong hakim kembali pada akar filsafat sesuai empati dan kemanusiaan.
“Imajinasi menjadi penting ketika hakim menghadapi kekosongan norma. Dari situlah lahir putusan yang segar dan berkeadilan,” kata Tommy dalam pemaparan pada pelatihan hari pertama, Senin (6/4/2026).
Tommy memantau hakim sering berhadapan dengan “ruang hampa” dalam peraturan perundang-undangan. Ketika menghadapi situasi itu, Tommy menganggap imajinasi berperan guna menemukan keadilan substantif, sebelum kemudian diuji melalui logika. Tommy berpesan supaya hakim tidak alergi berimajinasi.
“Imajinasi adalah modal kreasi. Dari sana, gagasan diuji melalui intuisi dan logika,” ujar Tommy.
Tommy pun menyadari tantangan hakim di era digital saat batas antara fakta dan opini kabur karena derasnya arus informasi. Sehingga Tommy berpesan hakim berpikir matang dan objektif.
“Yang viral sering dianggap sebagai kebenaran. Ini berbahaya karena bisa menumpulkan logika,” ujar Tommy.
Sementara itu, pemateri lainnya, Pendiri Rumah Filsafat, Reza Alexander Antonius Wattimena mendorong hakim agar dapat hidup secara bersahaja. Lewat cara demikian, Reza meyakini hakim dapat melahirkan putusan adil. Sehingga Reza mengingatkan hakim supaya tak tunduk pada hawa nafsu.
"Hidup bersahaja sumber kebahagiaan. Dari pemahaman akan nafsu, sudut pandang filsafat asia itu memuaskan nafsu seperti minum air laut jadi tetap makin haus. Nafsu memuaskan tanpa henti," ujar Reza.
Reza juga mengibaratkan kehidupan hakim layaknya pertapa. Mereka yang fokus pada tapanya tidak terpengaruh urusan duniawi.
"Hakim itu seperti pertapa jadi tak terpengaruh hiruk pikuk dunia, jadi ada ruang dimana kita (hakim) lebih kontemplatif," ucap Reza.
.png)
1 hour ago
1

















































