REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mencatat penyerapan tandan buah segar (TBS) sawit dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas pasar dan mendukung kesejahteraan petani yang berkelanjutan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa volume penyerapan tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 1,30 juta ton. Peningkatan ini mencerminkan terus berputarnya roda perekonomian masyarakat di sekitar kawasan perkebunan.
"Penyerapan tandan buah segar dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026," ujar Jatmiko dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Realisasi serapan panen ini menjadi upaya esensial untuk menjaga stabilitas dan perputaran ekonomi petani sawit mitra di berbagai daerah operasional perusahaan. Hal ini juga dipersembahkan sebagai kado dalam memperingati Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni.
Jatmiko menekankan bahwa momentum Hari Krida Pertanian menjadi pengingat pentingnya langkah nyata yang menyentuh langsung perekonomian pekebun kelapa sawit. Kepastian pasar yang stabil dan penyerapan hasil panen secara optimal menjadi kunci utama.
Perusahaan menilai kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh perayaan seremonial, melainkan juga kepastian hasil kebun mereka dapat terserap dengan baik dan memberikan nilai ekonomi berkelanjutan. "Ketika harga sedang dinamis atau saat memasuki masa panen raya, PKS kami berupaya menjaga keandalannya," ucap Jatmiko.
Selain menjaga keandalan pabrik, PTPN IV PalmCo juga memastikan harga beli tetap sangat bersaing, transparan, dan selalu berpedoman pada aturan penetapan harga dari pemerintah daerah. Intervensi positif di hilir ini dilakukan agar tata niaga sawit di tingkat petani tidak terganggu.
Ancaman Produktivitas dan Upaya Peremajaan
Meskipun serapan panen berjalan baik, dinamika kelapa sawit rakyat tidak hanya sebatas itu. Ancaman penurunan produktivitas akibat usia tanaman yang kian menua menjadi tantangan besar di masa depan. "Merespons hal itu kami melakukan pendekatan edukasi dan pendampingan peremajaan sawit rakyat," ujar Jatmiko.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menambahkan bahwa pendampingan petani sawit menjadi kebutuhan penting untuk menjaga keberlanjutan usaha mereka. Menurutnya, kesejahteraan petani tidak cukup hanya ditopang oleh penyerapan panen, tetapi juga peningkatan produktivitas kebun melalui edukasi berkelanjutan.
"Kita harus memikirkan dan merawat produktivitas kebun mereka untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Di situlah letak pentingnya edukasi dan pendampingan berkelanjutan di dalam ekosistem kemitraan kita," tutur Arya.
Pendampingan yang berjalan di lapangan juga mencakup penyelesaian syarat legalitas, teknis, serta offtaker produksi. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah melakukan pendampingan terhadap lahan seluas 23.188 hektare. Capaian positif tersebut terus dilanjutkan, di mana hingga Mei 2026, proses pendampingan telah mencapai 6.380 hektare.
Menurut Arya, capaian luasan lahan tersebut merupakan titik awal untuk melakukan transformasi tata kelola kebun rakyat menuju standar Good Agricultural Practices (GAP).
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
3 hours ago
3













































