Periklindo: Penguatan Riset Kunci Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) melihat ekosistem electric vehicle (EV) sebagai penggerak pertumbuhan industri nasional. Namun, penguatan riset dan rantai pasok dianggap krusial untuk menghindari ketergantungan pada keunggulan bahan baku.

Ketua Umum Periklindo, Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik harus diarahkan untuk meningkatkan daya saing industri nasional, bukan hanya memanfaatkan kekayaan sumber daya alam. "Kita terlalu bangga dengan itu. Akhirnya kita terjebak dalam keunggulan komparatif, bukan menuju kepada keunggulan kompetitif," ujar Moeldoko dalam acara Tutur Economic Dialogue Trend 2026 di Jakarta, Selasa.

Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar seperti nikel, mangan, kobalt, dan tembaga, yang menjadi modal penting untuk industri baterai. Namun, Moeldoko mengingatkan bahwa keunggulan bahan baku ini tidak akan cukup tanpa didukung oleh riset yang kuat dan penguasaan teknologi. Tantangan utama saat ini adalah kemampuan riset di tengah perkembangan teknologi baterai yang pesat, mulai dari lithium iron phosphate hingga solid-state battery.

Moeldoko menggarisbawahi, "Kalau riset kita lemah bagaimana kita bisa mengejar?" Selain riset, rantai pasok domestik juga perlu dikembangkan. Saat ini, banyak industri dalam negeri yang hanya bergerak pada produksi katoda dan anoda, sementara pengolahan lanjutannya dilakukan di luar negeri sebelum diimpor kembali ke Indonesia.

Menurut Moeldoko, peningkatan daya saing industri dan hilirisasi harus didorong agar tidak hanya mengandalkan keunggulan sumber daya alam. "Mari kita berpikir keras kalau kita ingin menuju kepada keunggulan kompetitif, bukan komparatif," tambahnya. Tantangan lainnya adalah pengembangan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), yang teknologinya terus berkembang.

Meski begitu, Moeldoko optimis dengan kapasitas industri otomotif domestik yang mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta unit per tahun, Indonesia masih memiliki ruang produksi yang besar. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan mempercepat pembangunan ekosistem EV secara utuh, mulai dari riset, produksi baterai, infrastruktur pengisian daya, hingga pengelolaan baterai bekas melalui skema penggunaan ulang dan daur ulang.

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, juga melihat transisi kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan. Penetrasi mobil listrik telah mencapai sekitar 13–14 persen, sementara kendaraan hibrida sekitar 8 persen, sehingga total pangsa keduanya telah melampaui 20 persen. "Mobil listrik itu adalah masa depan dan kita harus masuk di dalamnya," ujar Fransiscus.

Fransiscus menambahkan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang memengaruhi harga bahan bakar fosil, mulai mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |